Posted in Freelance, Horror, Mystery, Sad

[Freelance] 3 Day 2 Night

FF Ini merupakan FF titipan dari seorang teman sesama Author dan Lee Midah hanya mempublishnya saja ^_^ Tapi berikan beberapa apresiasi berupa saran atau kritik kalian pada ff ini sebagai penghargaan untuk sang Author ^_^. Mian baru ngepost soalnya aku baru sempet untuk melakukannya karena faktor kesibukan, jadi maklum ya.

3 day 2 nihgt by LM Artwork

Present by Minhyo1510 || Cast : Kwon Yuri Huang Zi Tao Oh Sehun Choi Sooyoung Cho Kyuhyun Kris Wu Jung Eunji Lee Donghae  ||

Length : Oneshoot || Rating : PG – 15 || Genre : Mysteri, Horror, Sad

~”~”~”~”~”

Annyeong ^^, nan minhyo1510 (Sam Min Hyo).

Ini ff pertama yang aku publish, walaupun numpang di blog Kyulhae ini, hehehe. (Thanks midah eonni ^^)

 

 

WARNING!!! Age Manipulation! Ke 8 Cast Utama memiliki umur yang sama…

Enjoy~~

 

 

~”~”~”~”~”

Apa kalian percaya, bahwa diantara kita –makhluk hidup- ada sesuatu yang hidup bersisian dengan kita? Bukan “hidup” seperti kita, namun “hidup” seperti mereka.

 

“Mereka” bisa melihat kita, tapi hanya sebagian dari kita yang bisa melihat “mereka”. Itu pun disebut sial. Dan percayalah! Kalian tidak benar-benar mau melihat “mereka”.

 

“Mereka” yang berbentuk astral. “mereka” yang gaib. Setelah melihat “mereka”, tidak ada jaminan kau akan mampu menerima kenyataan. Bahwa kau, telah di pilih “mereka” sebagai alat komunikasi.

 

~”~”~”~”~”

         Tawa seorang yeoja meledak, setelah selesai membaca buku usang yang terjatuh di bawah kakinya karena gerakan terlalu heboh yang dibuat yeoja itu saat tertawa. Matanya berair, terlalu banyak tertawa.

 

“YA! KWON YURI! Apa Kau Gila???” teriakan melengking kini menyeruak masuk ke dalam telinga yeoja itu, hampir menghancurkan gendang telinganya, jikalau yeoja itu tak segera menutup telinganya dengan kedua tangannya.

 

Yeoja yang di panggil Kwon Yuri itu menghentikan tawanya, lalu tersenyum sambil menatap seseorang yang kini berkacak pinggang setelah puas meneriakinya tadi.

 

“ya, ya, Jiyong oppa, kau bacalah buku ini! Kau pasti akan mati tertawa” ujar Yuri antusias sambil menyodorkan buku yang sebelumnya terjatuh di dekat kakinya.

 

Namja bernama Jiyong, Kwon Jiyong tepatnya, melirik sekilas pada buku yang disodorkan oleh Yuri. “k…kau membacanya?” tanyanya gugup, jakunnya naik turun.

 

“ne, wae?”

 

“kau tidak takut?? Kau tertawa??”

 

Yuri tersenyum penuh kemenangan saat Jiyong menatapnya heran. “ohh, apa oppa takut membaca buku ini?” goda Yuri sambil menyodorkan buku itu lebih dekat pada Jiyong. Refleks, Jiyong menghempaskan tangan Yuri dan membuat buku itu jatuh lagi.

 

“a…aniyo”

 

“hahaha, jangan bohong oppa! Bahkan kau tidak berani melihat cover buku itu. Hahaha…” tawa Yuri kini terdengar kembali, membuat Jiyong menatapnya sinis.

 

“kau tidak boleh tertawa seperti itu, kau akan terkena kutukan nanti! Karna kau telah meremehkan ‘sesuatu’ itu”

 

“memangnya buku itu milik medusa?” tanya Yuri acuh tak acuh kemudian berjalan melewati Jiyong sambil mengangkat tangannya ke atas dan bergerak aneh untuk membuat Jiyong takut, walau itu tak berhasil.

 

“dasar dongsaeng kurang ajar!” maki Jiyong sesaat sebelum Yuri masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan tape radio dengan volume hampir full. “Ya! Yuri~ah, cepat tidur! Bukankah kau besok ada reunian? Ini sudah jam 11 malam.”

 

Yang diajak bicara lantas membuka kembali pintu kamarnya dan memandang Jiyong heran. “Reunian? Aniyo oppa, aku hanya berkumpul bersama geng-ku dulu…”

 

“Ohh…” kini Jiyong menanggapinya acuh tak acuh, setelah berbalik berniat ingin pergi ke kamarnya, entah kenapa Jiyong langsung menghadap Yuri dan memberikan dead glare-nya. “Apa itu artinya namja bernama Tao itu ikut?” tanya Jiyong sinis.

 

Yuri menghela nafas, mengerti kenapa Jiyong bertindak seperti itu. “Of Course. He is my bestfriend, too” jawabnya dingin lalu menutup pintu kamarnya cepat, berusaha mengabaikan Jiyong yang sudah memarahinya di luar kamarnya. Yuri bahkan berpikir, mungkin mulut Jiyong sudah berbusa karena mencaci makinya, entah dia atau Tao.

 

 

~”~”~”~”~”

First Day…

Of 3 Days 2 Nights

 

Yuri berlari ke sana kemari tanpa tujuan, Jiyong hanya bisa terkekeh pelan saat menyaksikan dongsaengnya panik. “Sudah kubilang, kan? Jangan tidur terlalu malam. And see? Kau telat!”

 

“aissh… YA!!! Jangan hanya menonton! Bantu aku, dasar oppa babo!” maki Yuri kesal sambil melempar Jiyong dengan high heel berwarna peach miliknya.

 

Untungnya Jiyong cepat menghindar, salah perhitungan sedikit saja maka pelipisnya sudah akan tertanam dengan high heel dengan ujung tajam itu. Jiyong menghampiri Yuri lalu menunjukkan jam tangan yang ia pakai pada Yuri.

 

Pukul 07.00

 

Kening Yuri berkerut, menatap Jiyong heran. Yuri mengambil handphonenya lalu menunjukkannya pada Jiyong. “It’s nine o’clock. Not seven!” Jiyong tertawa lalu mengacak rambut Yuri yang sebelumnya sudah Yuri tata serapi mungkin.

 

“Ohh…come on! It’s kidding. Aku hanya melebihkan jam pada ponselmu dan jam dinding di rumah, tapi kau sudah seperti cacing kepanasan. Hahahaha”

 

Tawa Jiyong membahana di setiap sudut rumah, membuat Yuri diselimuti asap kemarahan.

 

Ting…Tong…

 

Bel rumah berbunyi, menandakan seseorang datang. Jiyong bergegas membuka pintu. Jikalau Jiyong tak lekas membuka pintu, sudah pasti nyawanya melayang karna amukan Yuri.

 

“Yuri~ah, lihatlah siapa yang datang!” teriak Jiyong saat ia kembali ke ruang tamu tempat Yuri berada.

 

Yuri melirik sekilas ke arah namja yang ada di belakang punggung Jiyong. Hening. Tak ada reaksi dari Yuri. Membuat Jiyong terkekeh pelan. Jiyong menghampiri Yuri lalu memeluknya.

 

“ayolah… aku hanya bercanda. Jangan marah, ne??”

 

Yuri melepaskan pelukan Jiyong lalu menghembuskan nafasnya kesal. “kalau kau bukan oppaku, sudah pasti kau akan mati saat ini juga!” Jiyong terkekeh lagi lalu menunjuk seorang namja di depan mereka saat ini.

 

“Yuri~ah… bogoshippoyo” ujar namja itu lalu memeluk Yuri.

 

“nado Sehun~ah… apa oppaku yang menyuruhmu menjemputku?”

 

Namja bernama Sehun itu mengangguk lalu berbisik pada Yuri. “ne, dia juga menyuruhku menjauhkanmu dari Tao. Funny, right?” ujar Sehun sambil mengerling nakal pada Yuri lalu mengikuti langkah Jiyong menuju dapur.

 

“Yuri~ah, cepat bersiap!” teriak Jiyong yang menyadarkan Yuri dari lamunannya karena perkataan Sehun padanya.

 

 

~”~”~”~”~”

‘Ganim High School’

’09.00’

 

“OH! Yuri~ah… bogoshippo! Kukira kau akan terlambat” teriakan Sooyoung menjadi sambutan ketika Yuri dan Sehun baru saja sampai.

 

Yuri hanya tersenyum lalu memeluk Sooyoung, melepas rindunya lepas 5 tahun keduanya tak pernah bertemu. Melihat itu, Eunji pun bergabung memeluk kedua sahabatnya itu.

 

“Oh, ayolah nona-nona. Kalian baru tidak bertemu selama 5 tahun. Aku dan eommaku saja baru bertemu kemarin setelah 8 tahun lamanya kami lost contact…”

 

Kini Kyuhyun –orang yang berkomentar- mendapat tatapan mematikan dari ke3 yeoja di hadapannya. Sehun hanya terkekeh lalu merangkul Kyuhyun.

 

“kau beruntung Kyu, eommamu masih mau mengakuimu. Hahaha” kini giliran Sehun yang mendapatkan tatapan mematikan dari Kyuhyun.

 

Kris melambaikan tangannya dari kejauhan. Memberi tanda untuk semuanya agar berkumpul disana. Yang lain pun, tanpa komentar segera menghampiri Kris.

 

Eunji dan Sooyoung sudah mendahului Yuri, sedangkan ia masih disibukkan dengan tas ranselnya yang hampir memuntahkan semua isinya karena kelebihan muatan.

 

“perlu bantuan, nona?” Yuri mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara itu. Manik hitamnya menangkap seseorang yang sudah tak asing baginya sedang memamerkan senyum terbaiknya di depan Yuri.

 

“Tao-sshi?” ujar Yuri menyebutkan nama seseorang di hadapannya kini.

 

“Tao-sshi? Formal sekali… seperti bukan kau saja Yuri~ah…” ujarnya tetap sambil tersenyum, tapi tatapan matanya berubah sendu.

 

Tao merebut tas ransel Yuri dari tangan Yuri. Berniat membantunya membawa benda berat itu. Tao kembali mengumbar senyumnya ketika tangannya hendak meraih tangan Yuri untuk mengajaknya bergandengan.

 

Ya… itu memang niatnya, sampai Sehun datang dan menggandeng tangan Yuri lebih dulu.

 

“ayo Yuri, kita sudah di tunggu!” ujar Sehun lalu menarik tangan Yuri pergi. Meninggalkan Tao yang masih mematung dengan tas ransel milik Yuri.

 

~”~”~”~”~”

“apa semuanya sudah datang?” tanya Kris saat Yuri, Sehun, dan Tao bergabung.

 

Eunji menggelengkan kepalanya setelah selesai menghitung teman-temannya yang kini ada di hadapannya. “sepertinya si prince charming belum datang…”

 

“prince charming? Lee Donghae maksudmu? Nama itu terlalu bagus untuknya, ia lebih pantas di panggil cassanova. Hahaha” tawa Kyuhyun kini berhenti saat di kepalanya mendarat sebuah sepatu kets berwarna hitam.

 

Sepatu kets hitam itu adalah milik Lee Donghae. Yang entah sejak kapan bergabung bersama mereka di sana. Kris bertepuk tangan. “baiklah, kurasa semuanya sudah berkumpul”

 

“lalu, kenapa kita semua ada di sini? Tak adakah tempat berkumpul yang lebih elit? Café atau bioskop, kurasa lebih bagus…”

 

“Ya! Lee Donghae! Apa kau tidak membaca surat undangannya? Kita akan berkemah selama 3 hari 2 malam di sekolah kita yang tercinta ini…” Sooyoung menatap Donghae jengah lalu meniup poninya kesal laksana banteng yang ingin menyeruduk mangsanya.

 

Donghae terdiam, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia lalu merogoh sakunya dan membuka sebuah kertas lusuh yang dilipat kecil-kecil. Matanya focus pada apa yang ada di dalam kertas itu, lalu beberapa saat kemudian Donghae terkekeh sambil menatap temannya satu per satu.

 

“baiklah, aku salah kali ini. Hehe” ujarnya saat ke7 temannya yang lainnya menggelengkan kepalanya serentak karena ulah bodoh yang di lakukan Donghae. “ngg… Kris, Tao, Kyuhyun, dan Sehunku tersayang. Bolehkah aku meminjam baju kalian untuk 3 hari kedepan?”

 

Yang disebut namanya hanya mendesah pasrah. Kemudian Eunji menepuk pundak Donghae lalu berbisik padanya. “kau bisa meminjam pakaian Yuri. Kurasa itu cocok untukmu, karena kau akan sangat terlihat sexy. Eerr…” saran Eunji lalu tertawa, membayangkan bagaimana jadinya Donghae kelak.

 

Tao menatap Kris lalu tampak berpikir sejenak. “dari mana kau mendapatkan izin pihak sekolah agar kita bisa memakai sekolah ini sepuas hati selama 3 hari?”

 

Kyuhyun berdeham lalu memukul ringan dadanya, berusaha menonjolkan dirinya pada Tao. “hanya perlu sedikit uang. Dan semuanya beres. Lagi pula ini sedang musim panas, sekolah tentunya tak ada pengunjung. Hebat kan?”

 

Mau tak mau semuanya bertepuk tangan, menghindari bank berjalan mereka kesal karena tak di perhatikan. “lalu kita tidur dimana?” kini Yuri yang sedari tadi diam mulai membuka mulutnya.

 

“kita akan tidur di tenda yang ada di lapangan. Dan masing-masing tenda ada 2 orang” semuanya mengangguk tanda mengerti penjelasan dari Kris. “tapi… sayangnya, bank berjalan kita hanya mampu menyediakan 4 tenda. Dan jumlah kita 8 orang. 3 yeoja, 5 namja”

 

Kalimat terakhir dari Kris mampu mengundang banyak mata melotot ke arah Kyuhyun yang sibuk tersenyum sambil mengekspos deretan gigi putihnya. Hanya Yuri yang mengangguk.

 

“no problem. Aku bisa setenda bersama Eunji dan Sooyoung”

 

Eunji dan Sooyoung saling berbagi tatap. Kemudian Sooyoung membuka mulutnya. “mianhe yuri~ah. Sepertinya aku dan Eunji tak bisa berbagi tenda denganmu. Tenda kami pasti sudah penuh dengan barang kami, dan jika di tambah dengan kau juga barangmu… kurasa kau tahu apa yang akan terjadi.”

 

Yuri mengecutkan bibirnya sambil mengangguk lesu. “kurasa para namja bisa bertiga di dalam tenda…”

 

Dengan cepat Kris dan Kyuhyun langsung saling merangkul. Menandakan kalau mereka akan berbagi tenda yang sama. “aku dan Kris tidurnya mendengkur dan tak bisa diam, jadi kalau bertiga, kurasa tidak bisa…” Kyuhyun berkomentar. Membuat Yuri menatap namja yang tersisa –Tao, Sehun, dan Donghae-.

 

“kalian bertiga akan dalam satu tenda kan?”

 

Sehun menatap sinis ke arah Tao. “Yuri~ah, kau tidak akan membiarkanku setenda dengan Tao, kan?”

 

“lalu kau akan membiarkanku tidur dengan salah satu dari kalian, begitu?” ujar Yuri ketus sambil menatap sinis ke arah Sehun.

 

Donghae mengacungkan tangannya tinggi. “Aku! Aku akan menemanimu, Yuri~ah” ujarnya senang hati sambil tersenyum puas. Dan Sehun segera menarik baju Donghae agar selalu didekatnya.

 

“kau bersamaku!” ujar Sehun ketus tepat di depan wajah Donghae. Membuat Donghae merasakan rintik-rintik hujan di wajahnya.

 

Eunji tersenyum lalu menepukkan tangannya beberapa kali. “baiklah, kurasa sudah di putuskan. Karna Sehun tak mau setenda dengan Tao. Jadi Sehun hanya berdua setenda dengan Donghae. Aku dengan Sooyoung, Kris dengan Kyuhyun. And, its mean… Yuri dan Tao. Chukkae!!!”

 

“MWO???” Yuri, Tao, Sehun, dan Donghae berteriak besamaan.

 

“mana mungkin aku setenda dengan namja???” Yuri berteriak.

 

“kenapa bukan aku yang setenda dengan Yuri?” Donghae protes.

 

“biarkan Tao dengan Donghae! Aku yang akan bersama Yuri” kini Sehun yang komentar.

 

Sementara Sooyoung, Eunji, Kris dan Kyuhyun sibuk dengan barang bawaan mereka, berusaha menghiraukan racauan dari mulut Yuri, Sehun dan Donghae. Dan nyatanya, Tao hanya diam. Tersenyum puas dalam hati.

 

 

~”~”~”~”~”

First Night…

Of 3 Days 2 Night

 

“Kau belum tidur?” tanya Tao pada Yuri sambil memberi yeoja cantik itu secangkir teh hangat. Yuri tersenyum sekilas sambil menggeleng kemudian menerima cangkir teh tersebut.

 

“kau sendiri?”

 

“mana mungkin aku membiarkan yeoja sendirian di lapangan dingin ini… Yang lain sepertinya sudah tidur. Kau tidak mau tidur?”

 

Yuri diam sejenak lalu memandang tenda-tenda yang berdiri kokoh di sekelilingnya, sepi tanpa suara. Menandakan bahwa penghuni masing-masing tenda tersebut sudah terlelap.

 

“ng… kurasa nanti saja”

 

Tao terkekeh pelan. “kau tenang saja. Kita tak akan tidur besama. Aku akan tidur di tenda Kris dan Kyuhyun. Kalau mereka tak mau, kurasa aku bisa tidur di kelas…”

 

Tao tersenyum, sampai akhirnya ia memutuskan meninggalkan Yuri untuk mencari tempat untuk tidur yang nyaman. Yuri memperhatikan punggung Tao yang semakin menjauh darinya, dan entah kenapa tubuh Yuri refleks mengejar dan menghentikan namja tampan tersebut.

 

“wae?” Yuri hanya bisa mengusap tengkuknya ketika Tao menatapnya heran.

 

Yuri menunjuk sebuah tenda yang ada di sudut lapangan. Tenda itu adalah tenda yang seharusnya milik mereka berdua. “tidurlah disana, a…aku takut sendirian…” ujar Yuri sambil menunduk dan memejamkan matanya.

 

Sungguh perkataan yang bodoh. Bagaimana bisa Kwon Yuri mengatakan kata ‘takut’, mengingat dirinya adalah pemberani diantara mereka semua. Tao pun rasanya tahu itu.

 

Tao kembali terkekeh lalu memeluk Yuri. “dengan senang hati” ujarnya sambil mengelus kepala Yuri lembut. Yuri hanya bisa menahan malunya sambil memukul ringan dada bidang Tao.

 

 

~”~”~”~”~”

First Night, Second Day…

Of 3 Days 2 Nights

’02.00’

 

Ssshh

Sssshh…

 

Yuri menggelengkan kepalanya perlahan, matanya masih terpejam. Menandakan kalau tidurnya terganggu. Akhirnya Yuri membuka matanya, lalu mengatur nafasnya yang tersenggal. Menatap Tao yang masih tertidur di sampingnya.

 

Yuri duduk lalu memeluk lututnya. Duduk meringuk. Matanya masih enggan melepaskan tatapannya pada namja yang selama ini berdiri kokoh di hatinya.

 

Ssshh

Sssshh…

 

Entah kenapa, tiba-tiba saja suhu udara di dalam tenda terasa sangat dingin bagi Yuri. Berulang kali ia menggosok kedua telapak tangannya sambil tetap duduk meringkuk. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Yaitu suara-suara aneh yang terdengar olehnya.

 

Baru kali ini Yuri merasakan apa yang namanya ‘takut’. Bulu kuduknya meremang. Membuat Yuri mengedarkan pandangannya ke sekeliling tenda dengan pandangan was-was.

 

“Tao~ah, bangunlah… Tao~ah!” Yuri berbisik, menggoyangkan tubuh Tao pelan. Agar pemuda itu bangun. 5 menit usai, Tao tak kunjung membuka matanya. Mungkin suara Yuri yang kelewat rendah atau Tao memang tak merasakan apapun.

 

Ssshh

  1. ..

 

Suara aneh tersebut menghantui Yuri lagi. Bahkan kini Yuri sudah menutup telinganya dengan kedua tangannya, tapi suara itu masih terdengar. Seolah ‘pemilik suara itu’, mengeluarkan suara aneh itu tepat di samping telinga Yuri.

 

Ssshh

Sssshh…

Ssshh

Sssshh…

 

Suara aneh itu makin terdengar jelas di telinga Yuri. Membuat tubuh mungil yeoja itu bergetar. Matanya masih terpejam, seolah tak mampu melihat keadaan sekitarnya. Rasa dingin semakin menusuk kulitnya. Kini terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya.

 

“Yuri~ah!” seru Tao sedikit terkejut melihat keadaan aneh Yuri. Tao segera mendekap tubuh Yuri yang bergetar dan terasa sangat dingin bagi Tao.

 

Yuri menangis. Matanya masih terpejam, telinganya pun masih ia tutup dengan kedua tangannya. Yuri bahkan terus mengabaikan pertanyaan Tao tentang keadaan aneh Yuri kala itu.

 

 

~”~”~”~”~”

          Tao memberikan segelas penuh air hangat pada Yuri yang kini sudah normal. Yuri tersenyum simpul dengan tatapan matanya yang nanar. Tangan Yuri masih bergetar saat ia menerima gelas dari tangan Tao. Membuat Tao membantu Yuri hanya untuk sekedar minum.

 

“gwenchana?” Yuri hanya mengangguk lemah. “sebenarnya kau kenapa? Kenapa tidak membangunkanku…”

 

Yuri menghela nafas. “aku sudah membangunkanmu… mungkin suaraku tak terdengar”

 

“Jinja??” Yuri kembali mengangguk. “lalu, kau kenapa?”

 

“aku juga tidak tahu… yang sangat jelas aku ingat, ketika aku mendengar suara-suara aneh”

 

Kening Tao terdapat garis-garis horizontal. Menandakan bahwa ia sedikit bingung. “suara seperti apa?”

 

Yuri menggelengkan kepalanya. “entahlah… suara seperti desisan ular, orang kepedasan atau orang mendesah. Sepeti itu…”

 

“mendesah?” kini kening Tao menunjukkan garis horizontal yang lebih besar. “mungkin itu Donghae, hahaha”

 

Yuri diam, tak tertarik dengan lelucon garing yang Tao buat. “tenda kita dengan tenda Sehun dan Donghae cukup jauh. Sedangkan suara itu terdengar begitu dekat. Awalnya suara itu kecil, lalu lama-kelamaan dan saat aku menutup telingaku, suara itu seperti tepat di sebelahku.”

 

Ketakutan kembali menghinggapi Yuri, membuat yeoja cantik itu menyenderkan kepalanya di bahu Tao. “sudahlah, tidak perlu kau pikirkan! Tidurlah, aku akan menjagamu…”

 

Yuri menggeleng. “aku tak bisa tidur…” Yuri enggan menutup matanya, pikirannya masih melayang entah kemana. Dan saat Yuri memperhatikan gedung sekolah, ia langsung menatap Tao. “maukah kau menemaniku?”

 

“ke kamar mandi?”

 

“aniyo, aku hanya ingin berkeliling di dalam sekolah. Rasanya sudah sangat lama aku tak penah menginjakkan kakiku ke sekolah ini. Mungkin yang terakhir kali ketika upacara kelulusan 5 tahun yang lalu…”

 

“baiklah. Aku juga sama sepertimu, terakhir aku ke sini… 5 tahun yang lalu”

 

Yuri menarik tangan Tao masuk ke dalam gedung sekolah yang terlihat benar-benar sepi. Hanya lampu-lampu kecil yang menghiasi koridor yang memberikan mereka penerangan. Sementara semua lampu di dalam ruangan, di buat mati.

 

“apa kau masih ingat gudang di taman belakang sekolah?” tanya Yuri yang langsung membuat Tao terkekeh.

 

“tentu. Kau mau ke sana?” Yuri tersenyum simpul sambil mengangguk.

 

Kurang lebih 10 menit mereka berjalan menyusuri setiap koridor panjang untuk mencapai taman belakang sekolah, namun nyatanya mereka belum sampai juga. Keduanya seperti berjalan memutar.

 

“apa sekolah ini berubah?” tanya Tao frustasi.

 

Yuri menggeleng lalu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Tao. “kurasa tidak. Apa kita yang tersesat?”

 

“itu tidak mungkin. Aku sangat hapal lekak-lekuk sekolah ini. Dan kau juga tahu, kan? kalau sedari tadi kita memang berjalan ke arah yang benar”

 

Yuri hanya bisa menganggukkan kepalanya. Entah kenapa kini Yuri kembali di selimuti rasa takut. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Hawa dingin setia di dekatnya, bahkan kini Yuri merinding.

 

Tap..

Tap…

 

“kau dengar itu?!” tanya Yuri spontan pada Tao. Genggaman tangannya kembali ia eratkan, walaupun genggaman tangan mereka sudah sampai batas tertinggi dari kata ‘erat’.

 

“mwo?” Tao bingung, mencoba mempertajam pendengarannya.

 

Tenggorokkan Yuri terasa tersekat oleh sesuatu, membuatnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata. “suara… langkah kaki. Kau tidak mendengarnya?” akhirnya Yuri hanya bisa berbisik pada Tao.

 

Tao diam, berusaha membuktikan ucapan Yuri salah atau benar. 15 detik berlalu, dan hasilnya nihil. Tao tidak mendengar apapun kecuali hembusan nafas Yuri yang menderu.

 

Tap…

Tap..Tap..

Tap…Tap…

 

Suara langkah kaki kembali terdengar oleh Yuri. Bahkan langkah kaki itu semakin nyaring juga memiliki ritme yang cepat. Seolah sang ‘pemilik langkah kaki’ sedang berlari menghampiri Yuri dan Tao saat ini.

 

“kau benar Yuri~ah, aku mendengarnya” kini Yuri bersyukur saat Tao juga mendengar langkah kaki brutal tersebut. “kurasa… suaranya dari sana!” seru Tao sambil menunjuk belokan di ujung koridor sekolah yang lebih gelap.

 

“sebaiknya kita kembali ke tenda” saran Yuri dengan nada suara yang sangat lirih, siapapun yang mendengarnya sudah pasti akan menyadari betapa takutnya yeoja cantik itu.

 

Tao sebenarnya kasihan akan keadaan Yuri sekarang, tapi ego-nya justru semakin menguatkan dirinya untuk mencari tahu ada apa di belokan koridor gelap itu.

 

“Yuri~ah, jangan takut! Aku ada disampingmu… ini pasti hanya akal-akalan mereka –Sehun, Kyuhyun, Sooyoung, Kris, Eunji, dan Donghae- untuk membuat kita takut. Tidak ada apa-apa di sekolah ini, hanya kita berdua dan orang-orang bodoh yang mungkin sedang mengerjai kita saat ini”

 

‘tidak. Itu tidak benar. Ada ‘orang lain’ selain kita ber8 di sekolah ini, Tao~ah’ batin Yuri berkecamuk. Andaikan ia berani melontarkan kalimat tersebut, sudah pasti ia dan Tao langsung kembali ke dalam tenda. Namun mulutnya bagai dijahit sangat rapat. Yuri tak mampu bicara.

 

Tao merangkul Yuri saat ini, menyalurkan kehangatan juga sedikit membuat ketakutan dalam diri Yuri berkurang. Mereka berjalan perlahan menghampiri arah suara langkah kaki itu terdengar.

Bermaksud mengagetkan sang pemilik langkah kaki jika itu benar salah satu langkah kaki milik ke6 teman mereka yang tersisa. Itu pikiran Tao, tidak bagi Yuri. Yuri yakin, langkah kaki itu adalah langkah kaki orang lain, selain mereka ber8 tentunya.

 

Semakin mereka dekat dengan suara langkah kaki tersebut, makin pula penerangan di koridor tempat mereka berada meredup. Dan kini Yuri dan Tao sudah ada di belokan tempat suara langkah kaki itu terdengar, satu langkah lagi, mereka berdua sudah pasti akan melihat ‘pemilik suara langkah kaki’ tersebut.

 

Tao tersenyum menyeringai. Tak sabar melihat wajah terkejut salah satu ke6 temannya saat ia muncul dan berteriak nanti, yang seharusnya salah satu dari ke6 temannya yang melihat ekspresi takut dari Yuri dan Tao.

Tao melepaskan genggamannya pada tangan Yuri. Lalu meloncat ke depan belokan gelap tersebut. “WAH!!!” 1…2…3… tak ada teriakan terkejut seperti yang Tao harapkan. Yang ia lihat hanya sebuah lorong kecil yang sangat gelap, tanpa ada seseorang pun disana.

 

Tao melirik pada Yuri, Yuri hanya bisa mengendikkan bahunya karena tidak mengerti apa yang di maksud Tao. Tiba-tiba lampu koridor tempat mereka kini rasanya sudah korslet. Karna sekarang lampu itu berkedap-kedip layaknya lampu disko di club malam.

Mungkin lebih dari 5 kali lampu itu berkedap-kedip, itupun jika Yuri tak salah menghitung. Kini lampu tersebut sudah berada dalam fase normal, yaitu menyala dengan remang.

 

Yuri bersyukur lalu berbagi tatap dengan Tao. Seharusnya hanya ada Tao… Tapi mata Yuri terbelakak saat ia melihat sosok tak dikenalinya sedang berdiri di belakang Tao yang saat ini sedang menatapnya.

 

Yuri berjalan mundur dengan teratur menjauhi Tao, atau yang lebih tepatnya menjauhi sosok tak dikenalnya tersebut. Sorot mata Yuri masih terpaku pada sosok itu, seolah hanya bisa menatap sosok itu. Yuri gemetaran, bibirnya terkatup rapat saat sosok itu seolah mendekat ke arahnya.

 

“yu…yuri~ah, gwenchana? Kau kenapa?” Tao bingung melihat Yuri yang tiba-tiba menjadi aneh. Ia pun berjalan mendekati Yuri, tapi Yuri menggeleng, bermaksud menyuruh Tao untuk diam ditempat.

 

“Tao~ah, a…ada sesuatu di belakangmu…”

 

Suara Yuri terdengar begitu lirih, Tao pun menyeritkan keningnya saat mendengar kalimat aneh Yuri. Adrenalin Tao sedikit memuncak, susah payah ia menelan salivanya sendiri. Tao menyiapkan ancang-ancang untuk berbalik badan, menerima setiap kenyataan buruk yang ada.

 

Tao mengehembuskan nafasnya, ia pun mulai menghitung dalam hati untuk berbalik badan. Dan… tidak ada apa-apa di belakang tubuhnya. Kecuali terusan koridor gelap yang pengap. Tao menghadap Yuri dan menatap yeoja itu heran.

 

“tidak ada apa-apa”

 

Baru saja Yuri ingin mengatakan kalau ia tidak bohong. Tapi tiba-tiba saja lampu di koridor itu bekedap-kedip kembali. Dan yang memperparah keadaan adalah adanya guncangan-guncangan dari benda-benda mati di dekat mereka. Seperti madding, lampu, bahkan pintu kelas yang seharusnya terkunci rapat.

 

Yuri berteriak karena madding didekatnya hampir saja menimpa tubuhnya, untungnya Tao dengan cekatan segera menarik tangan Yuri dan berlari dari tempat itu.

 

Mereka berniat kembali ke dalam tenda, jikalau mereka menemukan pintu keluar menuju lapangan, tempat tenda mereka dan ke6 temannya berada.

Seperti di awal, mereka bagai lari berputar, bagai anak ayam yang tersesat. Padahal mereka sudah 3 tahun lamanya mengenal selak beluk sekolah itu, dan tidak ada yang berubah sedikit pun dari sekolah itu.

 

Yuri dan Tao kini menghentikan langkah kaki mereka yang awalnya menderu. Bukan berhenti karena letih, tapi karena di hadapan mereka kini ada dinding besar yang menghalangi.

 

“se..sejak kapan ada dinding disini?” Tao yang merasa tak percaya kini mulai meraba-raba dinding itu, memastikan nyata atau tidak. Berulang kali Tao mendorong juga menendang dinding tersebut, namun layaknya dinding. Benda itu tak bergeming sedikit pun.

 

“tak pernah ada dinding seperti itu di sekolah kita” kini giliran Yuri berkomentar.

 

“lalu yang kita lihat ini apa? Fatamorgana?! Jelas-jelas ini nyata Yuri~ah”

 

“aku tahu! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?! Berdiam diri dan mati karena tersesat di sekolah sendiri? Yang Benar Saja!!!” suara Yuri menggema di seluruh koridor sekolah tersebut, Yuri sangat kesal saat ini. Ia bahkan nyaris putus asa. Ahh, tidak nyaris, tapi memang sudah putus asa.

 

Yuri menarik nafas dalam lalu jatuh duduk di dekat dinding, tubuhnya sangat letih. Kini ia pun mulai terisak, tatkala tak jua menemukan jalan keluar. Tao hanya bisa memukul bringas dinding di hadapannya, walau ia tahu dinding itu tak akan pernah memberinya jalan keluar.

 

 

~”~”~”~”~”

Second Day…

Of 3 Days 2 Nights

 

“YA!!! Apa yang kalian lakukan disini?” suara yang amat familiar kini memenuhi telinga Yuri dan Tao. Keduanya membuka mata, dan melihat sesosok yang amat mereka kenal kini sedang menatap mereka heran sambil berkacak pinggang.

 

“Kyu..kyuhyun~ah?” seru Yuri heran sambil menarik tangan Kyuhyun yang sudah lebih dulu menjulurkan tangannya untuk membantu Yuri berdiri.

 

Tao pun ikut berdiri, mensejajarkan dirinya dengan Kyuhyun dan Yuri. “bagaimana bisa kau ada disini Kyuhyun~ah? Apa kau tersesat juga?” tanya Tao heran sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Cahaya matahari sudah menerangi setiap sudut bangunan sekolah tersebut yang tadi malam benar-benar gelap.

 

“tersesat?” Kyuhyun berpikir sejenak, mencerna pertanyaan Tao yang benar-benar aneh. “apa maksudnya? Aku hanya kebetulan lewat karena ingin ke toilet. Lalu aku melihat kalian tertidur di koridor ini…” jelas Kyuhyun yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari Yuri dan Tao.

 

Yuri tak ingin berkomentar lebih, ia pun berbalik badan. Ingin melihat bagaimana keadaan dinding aneh semalam. Dan bagai tersengat listrik ribuan volt, kini Yuri hanya bisa diam termangu ketika melihat dinding sekokoh yang dilihatnya semalam sekarang telah lenyap, dan berganti dengan pintu gerbang berwarna abu-abu yang langsung mengarah ke lapangan.

 

Tao yang mengikuti arah pandangan mata Yuri tak kalah terkejutnya dari yeoja itu. “Kyuhyun~ah, kemana dinding yang ada disana?” tanya Tao sambil menunjuk pintu gerbang, tempat dinding aneh tersebut seharusnya berada. “apa kau menghancurkannya?”

 

“dinding? Hahaha, apa yang kalian maksud? Disana hanya ada pintu gerbang. Kalian tahu itu dari 8 tahun yang lalu, kan?!”

 

Saat Tao ingin membuka mulutnya kembali, Yuri langsung menggeleng. Menyuruh Tao untuk tak bicara lagi. Kyuhyun yang sangat heran hanya bisa berpikir yang aneh-aneh.

 

“lalu… apa yang kalian lakukan semalaman disini? Eey… jangan bilang kalian melakukan yang tidak-tidak ya?!” Kyuhyun langsung mendapatkan tepakan di belakang kepalanya dari Tao.

 

Sedangkan Yuri tak mau ambil pusing, ia hanya diam lalu berjalan menuju tendanya.

 

“Yuri~ah, kau mau kemana? Semuanya ada di kelas kita dulu. Kau tidak mau ikut?”

 

Kalimat Kyuhyun kini berhasil menghentikan langkah Yuri. Yuri berbalik lalu mengikuti langkah Kyuhyun dan Tao ke kelas, tempat mereka dulu belajar bersama. Sepanjang jalan Yuri terus memperhatikan seluk beluk sekolahnya, namun tak ada yang berbeda. Sama seperti sekolah yang terakhir ia datangi 5 tahun yang lalu.

 

Sangat kontras seperti keadaan semalam, seolah semuanya berputar. Bahkan madding yang hampir menimpa tubuhnya semalam kini masih berdiri kokoh. Tanpa ada pecahan kaca maupun cacat sedikit pun.

 

~”~”~”~”~”

“Yuri~ah! Kemana saja kau? Aku sangat khawatir saat aku tidak menemukanmu didalam tenda…”

 

Mulut Sehun seolah tak ada bosan-bosannya mengintrogasi Yuri saat Yuri bergabung bersama teman-temannya yang lain di dalam kelas mereka dulu. Sementara Yuri, ia hanya diam. Menunggu Sehun lelah bicara.

 

“Yuri~ah, Sehun~ah! Apa yang kalian lakukan? Ayo kesini!” teriak Eunji sambil melambaikan tangannya dari sudut belakang kelas mereka.

 

Yuri mengangguk lalu berjalan gamang menghampiri Eunji dan yang lainnya. Mau tak mau, Sehun pun ikut berjalan bersama Yuri. Sesaat Yuri dan Sehun sudah bergabung, Kris memberikan sebotol minuman pada Yuri.

 

“wine?” tanya Yuri heran ketika memperhatikan minuman botol yang diberikan Kris. “ini kan lingkungan sekolah, apa kalian yakin akan meminum wine disini? Lagipula ini masih pagi!”

 

Sooyoung merangkul Yuri lalu menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan tepat di depan wajah Yuri. “kita boleh melakukan apapun sesuka kita, Yuri~ah” ujar Sooyoung sambil terkekeh.

 

“kau mabuk Sooyoung~ah!” Yuri kini melepaskan rangkulan Sooyoung lalu menutup hidungnya. Tak tahan dengan aroma alcohol yang memenuhi tubuh yeoja berkaki panjang itu.

 

Yuri menjauh dari Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya, ia lihat Sehun, Donghae dan Sooyoung sudah mabuk berat. Hanya Kyuhyun, Kris dan Eunji yang masih kuat meminum wine yang tersisa. Dan hanya Tao yang tak terlihat disana. Padahal beberapa menit yang lalu, Yuri masih melihat Tao yang berlari karena ingin dicekoki wine oleh Donghae.

 

Kris menghampiri Yuri lalu kembali menyodorkan sebotol kaleng wine untuk Yuri, yang sebelumnya Yuri tolak. “It,s good” ujar Kris yang membuat Yuri tersenyum simpul lalu menerima botol wine tersebut.

 

Yuri berjalan menuju pintu keluar. Kyuhyun yang melihat itu langsung berteriak. “Yuri~ah, Kau Mau Kemana?”

 

“aku ingin sendiri. Kalau ada apa-apa, aku ada di kelas sebelah”

 

Kyuhyun hanya mengangguk tanpa banyak komentar lalu kembali melanjutkan meminum wine miliknya. Yuri berjalan memasuki kelas lain yang tepat di sebelah kelasnya, dimana teman-temannya bekumpul.

 

Yuri menghela nafas sambil melihat pantulan dirinya yang tak begitu jelas dari jendela yang ada dikelas itu. Jendela tersebut langsung mengarah ke taman belakang sekolahnya. Senyum Yuri mengembang saat ia melihat bangunan yang sangat kecil yang bahkan sudah hampir roboh termakan usia.

Dimana bangunan itu merupakan gudang barang-barang yang sudah tak layak pakai. Seperti kursi atau meja, papan tulis, alat kebersihan, dan taplak meja dengan noda yang tak bisa hilang walau dicuci dengan pemutih satu kolam pun.

 

Gudang belakang itu pun merupakan saksi bisu perjuangannya dengan Tao saat masih berpacaran dulu. Karena tak direstui oleh Jiyong –kakak laki-laki Yuri-, tempat itu digunakan untuk tempat bertemu Yuri dan Tao. Terdengar lucu, kah? Tapi tidak bagi Yuri.

 

Clek-

Seseorang masuk ke dalam kelas itu, dan membuat perhatian Yuri terfokus pada seseorang yang ada dihadapannya kini. “Tao?” ujarnya memanggil namja dihadapannya kini. Tao hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

 

“kau mabuk?!” seru Yuri terkejut. Karna yang ia tahu selama ini, Tao paling lemah terhadap alkohol. Mencium aromanya pun Tao langsung mual. Namun, sosok Tao yang dilihatnya kini sudah mabuk berat.

 

Yuri menopang tubuh Tao yang hampir ambruk, aroma alkohol seketika langsung menyergak hidung Yuri. Membuat Yuri ingin menjatuhkan tubuh Tao, jikalau keadaan Tao lebih baik. Namun sekarang, keadaannya sungguh buruk.

 

“oh yuri~ah, kau jaga Tao, ne?” entah sejak kapan Kyuhyun ada didepan pintu kelas, menatap Yuri dan Tao sambil tersenyum manis.

 

“kau yang membuatnya mabuk?”

 

“aniyo. It’s Donghae, salahkan saja si manusia ikan itu. Jangan aku!” bela Kyuhyun lalu membantu Yuri memapah tubuh Tao untuk duduk di kursi.

 

Kyuhyun tersenyum lagi lalu mengacak rambut Yuri. “aku pergi, ne?!” Yuri tak merespon Kyuhyun yang kini sudah ada didepan pintu lagi. Yang Yuri lihat hanya lekukan wajah Tao.

 

Kyuhyun tersenyum lagi pada Yuri, kali ini senyum menyeringai. Sebelum menutup pintu, Kyuhyun merogoh saku celananya, dan mengambil sebuah kunci. Kyuhyun langsung menutup pintu dan segera mengkuncinya.

Yuri yang menyadari itu langsung berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya. Namun naas, Kyuhyun sudah lebih dulu mengkunci pintunya. Yuri berdecak kesal sambil memukul pintu di hadapannya.

 

“YA!!! Cho Kyuhyun! Apa Yang Kau Lakukan?! Cepat Buka Pintunya!!!” teriak Yuri dari dalam. Siapapun pasti bisa mendengar suara Yuri, dan Sehun pun jika mendengar itu pasti akan langsung membantunya. Tapi sayangnya, semua temannya dalam keadaan tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.

 

“mianhe Yuri~ah, sebaiknya kau selesaikan masalahmu dengan Tao. Aku melakukan ini pada kalian, karena aku peduli. Lagi pula telingaku ini sudah panas karena selalu mendengar curhatan Tao tentang kau setiap malamnya, setiap harinya. Bahkan setiap tahunnya. Apa kau tidak kasihan padaku?”

 

Hening. Dapat dipastikan Kyuhyun langsung pergi ketika ia selesai dengan kalimatnya, namun Yuri? Ia hanya diam, meresapi setiap kata yang Kyuhyun katakan padanya. Sesekali pandangan Yuri melihat ke arah Tao yang sudah tidur.

 

~”~”~”~”~”

“yuri?”

 

Tao yang kini sudah sadar –dari tidur maupun pengaruh alcohol- heran saat melihat Yuri yang tertidur di sampingnya. Tidak ada pergerakan dari Yuri, menandakan kalau yeoja itu tidur dengan lelap. Tao tersenyum menatap wajah Yuri saat tidur. Wajah cantik itu tak pernah berubah sedikit pun.

 

Tao mengesampingkan helaian rambut Yuri ke belakang telinganya yang sebelumnya menutup kelopak matanya. Lekuk wajah Yuri yang sempurna kini bisa dilihat Tao dengan sangat jelas. Tao tersenyum lalu menggenggam tangan Yuri.

 

“5 tahun. 5 tahun kita tak bertemu, Yuri. Aku sangat takut hatimu akan berpindah pada Sehun, yang selalu ada di saat kau butuh. Tidak seperti aku, yang terus bersembunyi selama ini.”

 

Tao berhenti, menghela nafas sejenak. Raut wajahnya berubah, lekungan bibir ke bawah terlukis di wajah namja tampan itu. “sebenarnya aku tidak mau datang, karna hatiku belum siap untuk tersakiti. Tapi Kris memaksaku, alhasil aku harus menelan kepahitan saat melihat wajahmu. Apalagi saat kau memanggilku ‘Tao-sshi’. Rasanya aku benar-benar ingin menghilang dari dunia ini…”

 

“aku sudah akan bersiap untuk menyerah padamu, Yuri~ah. Jika kau tidak menghentikanku untuk mencari tempat tidur semalam. Tapi, kau melakukannya. Kau melakukannya, Yuri!” Tao terkekeh mengingat betapa merahnya wajah Yuri saat Yuri meminta Tao untuk tetap setenda dengannya.

 

Yuri menggerakkan tangannya, mungkin tidurnya tergangu saat Tao terkekeh. Tao diam, senyum menghiasi wajahnya. Menunggu Yuri untuk membuka matanya. Kini Yuri sukses membuka matanya dan terkejut karna wajah Tao yang sangat dekat dengan wajahnya.

 

“Tao, k…kau sedang apa?” suara gugup Yuri semakin membuat senyum Tao mengembang.

 

“melihat wajahmu”

 

Refleks Yuri langsung meraba-raba wajahnya. “ada apa di wajahku? Apa ada air liur?” tawa Tao meledak. Melihat Yuri yang keheranan, Tao segera menggeleng lalu meraih tengkuk Yuri dengan kedua tangannya.

 

“aniyo. Kau sangat cantik, Yuri.”

 

Rona merah hinggap di wajah Yuri. Yuri mencoba memalingkan pandangannya dari Tao. Tapi Tao selalu berhasil menggagalkannya. Seolah Tao hanya mau Yuri melihatnya. Keduanya larut dalam pandangan masing-masing.

 

Bahkan keduanya tak menyadari kalau wajah mereka kini semakin mendekat. Tatapan Tao tajam, berbanding terbalik dengan tatapan sendu milik Yuri. Semakin lama, tatapan sendu itu membuat Yuri menutup matanya. Jakun Tao naik turun, ia juga berusaha mengatur nafasnya.

 

 

~”~”~”~”~”

“Hoek…” hampir saja Sooyoung memuntahkan seluruh isi perutnya jika ia tidak segera menutup mulutnya. Rasa mual masih setia di perutnya, mungkin efek terlalu banyak meminum wine.

 

Sooyoung mengedarkan pandangannya, semua temannya lengkap. Kecuali Yuri dan Tao tentunya. Semuanya masih terlelap, entah tidur atau pingsan karna mabuk. Sooyoung tak mau ambil pusing karna itu.

 

Sooyoung bangkit lalu berjalan menuju pintu, kepalanya masih pusing, wajar jika ia berjalan terhuyung-huyung. Sooyoung hampir mencapai pintu, jika saja Sehun tidak berteriak karena kakinya terinjak Sooyoung.

 

“YA!! Sakit” Sehun mengumpat, sedangkan Sooyoung hanya diam lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.

 

Sehun kesal, bermaksud mengerjai Sooyoung di kamar mandi, jadi ia pun mengikuti Sooyoung. Saat keluar kelas, entah kenapa Sooyoung berhenti di depan kelas sebelah kelas teman-temannya berada. Sooyoung mengintip ke dalam kelas melalui jendela sambil tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

 

“dasar…” gumam Sooyoung tanpa menghilangkan senyumnya, lalu ia melanjutkan langkahnya.

 

Merasa heran, Sehun pun berhenti di tempat Sooyoung berdiri sebelumnya. Beda dengan Sooyoung yang tersenyum, mata Sehun justru panas. Karna di dalam kelas itu, ada Yuri dan Tao yang sedang berciuman. Keduanya saling balas membalas. Membuat amarah Sehun memuncak.

 

Sehun menghembuskan nafasnya kesal lalu mendobrak pintu kelas dimana Yuri dan Tao berada. Keduanya refleks melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Sehun.

 

“se…sehun~ah” Yuri sangat gugup, ia hanya bisa memalingkan wajahnya dari Sehun maupun Tao.

 

Sehun yang sudah terlanjur ditelan amarah, langsung mencengkram kerah baju Tao erat. “Apa Yang Kau Lakukan, HAH??!” teriaknya tepat di hadapan wajah Tao.

 

Tao justru tersenyum sinis menatap Sehun. “mwo? Kau cemburu?” tanya Tao dengan nada meremehkan, semakin membuat wajah Sehun merah akibat menahan amarahnya.

 

“KAU” teriak Sehun lagi sambil mengepalkan tangannya berniat menghantam wajah Tao. Tapi Sehun kalah cepat dengan tangan Yuri yang menahan tangan Sehun yang hampir mendarat mulus di wajah Tao.

 

“kau ini kenapa?” tanya Yuri sambil menghempaskan tangan Sehun yang sebelumnya ia tahan.

 

Belum sempat Sehun menjawab, Kyuhyun, Kris, Eunji dan Donghae tiba-tiba saja masuk. Kris langsung menarik tangan Sehun, berusaha menahan namja pemarah itu mungkin.

 

Diam-diam Kyuhyun tersenyum puas dalam hati. Sedangkan Eunji hanya diam, tidak mengerti apa yang terjadi. Beda lagi dengan Donghae, ia langsung menghampiri Yuri dan bergelayut manja di lengan Yuri.

 

“Yuri~ah… kau jahat sekali. Kenapa tidak memilih aku saja?” ujar Donghae manja sambil pura-pura menangis. Tao langsung mendorong kepala Donghae, agar Donghae menjauh dari Yuri.

 

~”~”~”~”~”

          Sooyoung tertawa saat mendengar suara Sehun yang berteriak. Sooyoung sudah memperkirakan hal ini, pasti Sehun akan marah besar jika melihat apa yang Yuri dan Tao lakukan tadi. Dan lagi-lagi ia berhasil mengerjai Sehun. Yang seharusnya Sehun yang mengerjai Sooyoung.

 

Sooyoung melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, ia berbelok ke kanan saat sudah sampai di ujung koridor lantai 2. Seharusnya ia sudah berhadapan langsung dengan pintu toilet, namun ternyata ada lorong lagi disana. Lorong itu tak panjang, mungkin hanya ada 10 meter, dan langsung mengarah kepintu kamar mandi. Tak ada ruangan lain disana.

 

Lorong itu tak terkena cahaya matahari, jadi sedikit gelap. Hanya ada cahaya remang-remang yang menghiasi, tapi entah berasal dari mana. Padahal tidak ada lampu di lorong yang cukup sempit itu.

 

Lagi-lagi Sooyoung tak mau ambil pusing, karna ia sangat membutuhkan kamar mandi saat ini. Sooyoung mempercepat langkahnya untuk mencapai pintu kamar mandi di ujung lorong itu.

Mungkin Sooyoung masih terpengaruh efek alcohol, karna sekarang ia merasa pintu kamar mandi di depan matanya itu terasa semakin menjauh darinya.

 

Langkah kakinya semakin berat, seperti ada yang menahan kakinya. Berulang kali mata Sooyoung menatap langkah kakinya. Sepatu kets berwarna biru dengan tali putih masih melekat di kakinya. Dan tak ada yang aneh dengan kakinya.

 

Saat Sooyoung kembali focus pada pintu kamar mandi yang tak kunjung sampai padanya. Dada Sooyoung terasa tertusuk sesuatu. Ia menjadi susah bernafas. Karna di depan pintu kamar mandi itu, sekarang ada seorang yeoja yang berdiri dengan pakaian seragam sekolah.

Yeoja itu menunduk. Rambut panjang berwarna hitam yang digerai yeoja itu menutupi seluruh wajahnya, membuat Sooyoung tak bisa melihat wajah yeoja itu.

 

“k…kau siapa? Ke…napa ada disini? Bukankah sekolah libur?” tanya Sooyoung sedikit gugup, jujur ia merasa takut akan yeoja itu.

 

Yeoja itu diam, tak bergeming sedikit pun. Sooyoung memberanikan dirinya untuk menghampiri yeoja itu. Tangannya ia julurkan agar bisa meraih yeoja itu, tapi tiba-tiba saja kaki Sooyoung tersandung sesuatu.

 

Dukk…

 

Sooyoung terkejut bukan main saat kepalanya tiba-tiba saja menghantam sesuatu. Sooyoung menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkannya dari efek alcohol yang mungkin masih tersisa.

 

Dan kini dapat Sooyoung lihat dengan jelas, pintu kamar mandi yang berada tepat di ujung hidungnya. Sooyoung semakin terkejut, padahal tadi ia masih jauh dengan pintu kamar mandi itu. Dan belum lagi yeoja berseragam sekolah yang tiba-tiba saja menghilang.

 

Sooyoung mengedarkan pandangannya, mencari sosok yeoja itu. Namun nihil, tak ada apapun di dekatnya. Dan lagi-lagi Sooyoung terkejut, karna ia masih berdiri di ujung koridor lantai 2. Dan lorong sempit menuju pintu kamar mandi itu pun menghilang.

Padahal tadi, dengan jelas Sooyoung berjalan cukup lama di koridor itu. Hanya untuk menuju pintu kamar mandi, dan sekarang pintu itu ada di hadapannya.

 

“aku tak akan mabuk lagi…” ujarnya sambil menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

 

Di dalam sana, terdapat 3 bilik toilet. Sooyoung memilih yang di tengah. Karna yang di dekat pintu terkunci. Dan ia tidak mau berjalan lebih jauh hanya untuk menempati bilik toilet yang paling ujung.

 

Tes…

Tess..

Tess…

 

Suara tetesan air terdengar sangat jelas di telinga Sooyoung, mungkin karna di toilet itu sangat sepi. Sooyoung bernafas lega karena urusannya dengan kamar mandi sudah selesai. Ia keluar dari bilik tengah yang ia tempati lalu berjalan menuju wastafel yang ada di dekat pintu.

 

Sooyoung mencuci tangannya lalu bercermin sambil merapikan rambutnya. Cermin tersebut kurang jelas, mungkin karna Sooyoung menyalakan kran air. Dan membuat kaca tersebut diselemuti embun.

 

Sooyoung mengelap cermin itu asal menggunakan tangannya. Dan matanya langsung membelakak saat yeoja yang ia lihat sebelumnya, sedang bersandar di dinding tepat di belakang Sooyoung. Yeoja itu masih menunduk dengan wajah yang tertutup rambut.

 

Sooyoung langsung menoleh ke belakang, namun yeoja itu menghilang lagi. Sooyoung menghela nafas lalu bermaksud kembali bercermin. Tapi tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Hawa dingin menyelimutinya.

 

Perlahan tapi pasti, Sooyoung memberanikan dirinya menatap cermin. Seketika tubuhnya langsung kaku, mulutnya kelu tak bisa bersuara. Kini dihadapannya, ada sosok yeoja yang sama sedang berjongkok di atas wastafel. Wajah yeoja itu langsung menghadap ke Sooyoung.

 

Wajahnya bebas dari rambut yang sebelumnya menutupi wajah yeoja itu. Kini Sooyoung dapat dengan jelas melihat rupa yeoja itu. Mulut yang dihajit dan dihiasi dengan darah segar yang meleleh di sekitar bibirnya.

Matanya yang tak ada bola mata, berwarna hitam seperti lubang hitam yang siap menghisap Sooyoung kapanpun. Wajahnya yang berwara pucat pasi dipenuhi dengan luka-luka yang masih mengeluarkan darah segar.

 

Sooyoung tak bisa berbuat apa-apa. Ia seperti terpaku pada sosok yeoja di hadapannya kini. Kini yeoja dihadapannya menyeringai padanya, dengan bibir yang dijahit rapat.

 

~”~”~”~”~”

          Sehun duduk di kursi paling ujung, masih menatap Tao yang tersenyum saat bicara dengan Kyuhyun. Sedangkan Yuri masih menarik-narik tangan Sehun. Berusaha membuat Sehun kembali bermood bagus.

 

“KYAAAAAA…”

 

Yuri, Tao, Sehun, Kyuhyun, Kris, Eunji dan Donghae langsung terdiam ketika mendengar suara jeritan seorang yeoja. Eunji berdiri dari duduknya lalu menatap cemas semua temannya.

 

“bukankah itu suara Sooyoung?”

 

Tak ada yang menjawab pertanyaan Eunji. Kris berlari lebih dahulu, lalu disusul yang lain. Mencari dari mana asal suara tersebut. Sehun paling belakang berlari bersama Yuri.

 

“Kurasa Ia Ada Di Toilet!” teriak Sehun saat Kris baru saja ingin mengambil jalur yang berlawanan dari tempat toilet berada.

 

Kris mengangguk masih tetap memimpin teman-temannya berlari mencari Sooyoung. Jarak mereka dari toilet hanya tersisa 15 meter, namun tiba-tiba saja Kris menghentikan langkahnya. Membuat teman-teman di belakangnya melakukan hal yang sama.

 

“kenapa kau berhenti??” tanya Donghae sambil mengatur nafasnya yang tersenggal.

 

Kris menatap satu per satu temannya yang sedang menatapnya dengan tatapan heran. Kris hanya bisa menggeleng.

 

“bau anyir” ujar Kyuhyun tiba-tiba, Kris mengangguk. Yang lain langsung menatap Kyuhyun.

 

Yuri yang nampak tak sabaran, tidak memedulikan hal itu. Ia berjalan mendahului semua temannya yang kini membatu. Tao mengikuti Yuri, disusul Eunji yang menggenggam lengan Yuri.

 

“kalian mau sampai kapan disana? Kami yang yeoja saja berani mengambil langkah” sindir Eunji pada Sehun, Kyuhyun, Kris dan Donghae yang masih berdiam diri.

 

Tao dan Yuri sudah sampai di depan pintu toilet. Tao berusaha membuka pintu tersebut, namun terkunci. Yuri menggedor pintu dengan ritme cepat. Takut terjadi sesuatu pada Sooyoung.

 

“Sooyoung~ah?! Kau Di Dalam? Ini aku Yuri! Buka pintunya!!” tak ada jawaban dari dalam, membuat ketakutan Yuri bertambah.

 

“aku akan mendobraknya, kau mundurlah!” seru Tao sambil menarik tangan Yuri ke belakang.

 

Sehun yang tak mau melihat Tao menjadi ‘pahlawan’ di mata Yuri segera menghampiri Tao dan membantunya mendobrak pintu.

 

Dukk…

Duak…

Brukk…

 

Pintu berhasil dibuka karna Tao dan Sehun. Keduanya jatuh bersamaan. Yuri dan Eunji langsung berlari ke dalam toilet. Kyuhyun, Kris, dan Donghae yang sedari tadi diam kini mengikuti langkah Yuri dan Eunji.

 

“KYAAAA”

 

Suara jeritan Eunji terdengar dari dalam toilet. Mau tak mau para namja mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam toilet. Tao masuk lebih dulu, yang ia lihat adalah Yuri yang duduk sambil menutup mulutnya. Tao menghampiri Yuri lalu mendekapnya.

 

“ada apa?” tanya Kyuhyun saat melihat Eunji yang menangis sambil menunjuk ke arah wastafel.

 

Semua mata mengikuti arah jari telunjuk Eunji. Seketika semuanya kembali membatu saat melihat seorang yeoja dengan kepala masuk ke dalam wastafel dengan air yang menyala. Air itu melebihi kapasitas, membanjiri sebagian lantai toilet, belum lagi warna air yang merah karna darah dari kepala yeoja yang ditenggelamkan di wastafel.

 

Semuanya hanyut dalam ketakutan, hanya Kris yang berani mendekat ke tubuh yeoja itu yang kini sudah mulai membiru. Kris berulang kali menelan salivanya sendiri, bukan karna takut. Tapi karna baju yang dipakai yeoja itu sangat familiar dimatanya.

 

Kris tinggal selangkah lagi mencapai tubuh yeoja itu. Tapi tiba-tiba saja ia berhenti dan menatap satu per satu temannya. “siapapun tolong panggilkan polisi dan ambulance!”

 

Donghae langsung berlari menuju tenda. Kris menutup kran air dan membuka jacketnya. Menutup kepala yeoja itu dengan jacketnya. Sehun mendekat ke Kris.

 

“siapa?” tanya Sehun tapi Kris langsung menggeleng.

 

“kurasa kalian tak akan mau tahu siapa yeoja ini, kan?”

 

Kyuhyun menatap Kris lalu menghela nafas. “itu Sooyoung, kan?” Eunji langsung melotot. Sedangkan Kris mengangguk lemah.

 

Yuri langsung menangis di dekapan Tao. Sehun mengacak rambutnya frustasi “ba…Bagaimana Ini Bisa Terjadi???” tanya Sehun ketus sambil memukul dinding di belakangnya.

 

“tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Sooyoung. Kita semua selalu bersama…” Kyuhyun berusaha menenangkan Sehun, tangis Yuri dan Eunji semakin keras, terdengar saling menyapa.

 

 

~”~”~”~”~”

          Beberapa menit kemudian Donghae datang. Keringat bercucuran di tubuhnya, nafasnya tersenggal. Yang lain pun mengahampiri Donghae. Ingin tahu apa yang terjadi pada Donghae.

 

Donghae menggelengkan kepalanya, membuat teman-temannya menatapnya heran. “hah hah, i…ini mustahil!” ucapnya terbata-bata.

 

“Mwo?” tanya Kris yang sudah tak sabar.

 

“haah” Donghae berusaha mengatur nafasnya, agar ia dapat bicara normal. “kalian tidak akan percaya ini! Aku sudah mengobrak abrik semua tenda kita, dan tidak ada satu pun ponsel. Dan kalian perlu tahu, kalau dinding sekolah meninggi! Kita tidak bisa keluar dari sekolah ini, pintu gerbang pun menghilang”

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya kesal lalu mencengkram kerah baju Donghae. “Dengar! Sooyoung, mati tanpa sebab… Dan kau masih bisa bercanda?!”

 

“m,,,mwo? Soo…Sooyoung?!” tanya Donghae tak percaya, Kyuhyun mengarahkan pandangan Donghae ke arah tubuh Sooyoung yang sudah kaku. “Tapi aku sungguh-sungguh! Aku tidak bohong!”

 

Tao bangkit dari duduknya dan merogoh saku di setiap baju maupun celananya. “ponselku juga menghilang. Padahal tadi pagi aku masih memainkannya.”

 

“aiish, mungkin terjatuh” protes Kyuhyun.

 

Yuri langsung menggelengkan kepalanya. “tidak mungkin jatuh, karna aku juga kehilangan ponselku. Dan yang di katakan Donghae, aku bisa menjamin kalau ia tidak bohong”

 

“Yuri benar” kini Tao yang membela. “Kita bisa pastikan saat ini juga.”

 

Semuanya setuju dengan usul Tao, tapi saat semuanya berjalan keluar kamar mandi. Eunji tetap diam. “bagaimana dengan Sooyoung? Apa kalian tega memperlakukannya seperti itu?!”

 

Sehun menarik tangan Eunji, menyuruhnya untuk mengikuti langkah temannya yang lain. “kita tidak bisa berbuat apa-apa pada Sooyoung sampai polisi datang.”

 

 

~”~”~”~”~”

Kini semuanya hanya bisa mematung ketika melihat gerbang sekolah yang menghilang dan berganti dengan dinding yang tinggi. Bahkan puncak dinding itu tak terlihat sama sekali.

 

“kita pasti sudah gila” ujar Sehun sambil mengerjapkan matanya.

 

“lalu kita harus bagaimana sekarang? Kita seperti terisolasi dari dunia luar disini” protes Kris sambil membagi tatap pada teman-temannya yang lain.

 

Yuri berjalan menjauh dari teman-temannya. “kita tidak bisa berbuat apa-apa sampai semua kegilaan ini berakhir. Lebih baik kita kembali ke dalam kelas, bersama akan lebih bagus untuk kita.”

 

 

~”~”~”~”~”

“MWO???” Sehun, Kyuhyun, Kris, Eunji dan Donghae mengucapkan kata yang sama saat Tao menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Yuri semalam.

 

Sedangkan Yuri memilih menyendiri di pojok kelas sambil menyenderkan kepalanya di meja. Sesekali Yuri menatap teman-temannya yang sedang berpikir keras, ‘apa yang sebenarnya terjadi disini?!’

 

“lalu kenapa kau tidak menceritakannya pada kami lebih awal?” protes Eunji yang mendapat anggukan dari Sehun, Kyuhyun, Kris serta Donghae.

 

Tao menggedikkan bahunya. “hanya aku dan Yuri yang mengalaminya, mana mungkin aku menceritakannya pada kalian. Bisa-bisa kalian menganggap aku dan Yuri gila”

 

Yuri bergabung bersama semua rekannya. “ayo kita selusuri sekolah ini. Siapa tahu ada alat untuk menghubungi seseorang. Pasti ada telepon dan komputer di sekolah ini…”

 

“AH! Kau benar! Kenapa kita semua bisa tidak kepikiran?!” seru Donghae antusias.

 

Mereka semua berpencar mencari alat untuk berkomunikasi. Namun semua berhasil sama, yaitu Nihil. Telepon memang ada, tapi salurannya putus. Laboratorium komputer pun tak bisa digunakan, karna tidak ada jaringan internet. Kini semuanya sudah kembali berkumpul di aula sekolah.

 

“kita tidak bisa melakukan apapun sekarang” ujar Sehun yang mendapat anggukan setuju dari semua temannya.

 

~”~”~”~”~”

Second Night…

Of 3 Days 2 Nights

 

Malam sudah larut, dan mereka –Yuri, Sehun, Tao, Kyuhyun, Eunji, Kris, dan Donghae- masih bertahan di aula dengan beberapa makanan ringan yang sebelumnya mereka ambil di tenda masing-masing. Tidak satupun dari mereka yang berniat memisahkan diri.

 

Semakin malam, beberapa diantara mereka memutuskan untuk berpetualang di alam mimpi. Hanya Yuri dan Tao yang masih membuka mata. Terkadang keduanya membagi tatap satu sama lain, namun hingga kini tidak ada satu pun topik yang menjadi pembicaraan mereka.

 

“ekhem…” Tao mengatur nada bicaranya. Yuri yang mendengar itu segera menyodorkan botol air mineral untuk Tao. “ah, gomawo” ucap Tao sambil mengambil botol air mineral yang di berikan yuri lalu meminumnya.

 

Keheningan kembali melanda, sampai Tao memutuskan untuk membuka pembicaraan. “kau tidak mengantuk?” Yuri hanya menggeleng. Tao menganggukan kepalanya lalu kembali diam, memikirkan sesuatu. “emm, Yuri…”

 

“apa yang kau katakan itu benar?”

 

Tanya Yuri tatkala Tao ingin mengajak Yuri bicara lagi. Tao yang tak mengerti pun hanya bisa menatap Yuri heran. “me…memangnya apa yang ku katakan?”

 

“yang kau katakan saat aku tertidur…” mendengar itu, botol air mineral yang semula di genggam Tao kini terjun bebas ke lantai.

 

“k…kau mendengarnya?!”

 

Yuri mengangguk lalu menunduk, menyembunyikan rona merah yang hinggap di pipinya. Tao tersenyum lalu mengganti posisi duduknya di dekat Yuri.

 

“aku senang kau mendengarnya. Setidaknya aku tak harus menyusun kalimat untuk berterus terang padamu…” ujar Tao membuat Yuri terkekeh. “tapi tempatku tidak tergantikan oleh Sehun, kan?!”

 

Yuri memukul lengan Tao, membuat Tao memperkeras tawanya. Kemudian Tao merengkuh Yuri ke dalam pelukannya. Mengelus punggung Yuri, memberikan yeoja itu ketenangan.

 

Tiba-tiba saja getaran muncul entah dari mana. Membuat yang lain membuka matanya dan saling mendekat. Tao menggenggam erat tangan Yuri, begitu pula sebaliknya.

 

“sekarang apa? Gempa?!” celoteh Kyuhyun frustasi.

 

Komentar Kyuhyun ternyata membuat getaran semakin kencang. Kris memberi aba-aba pada semua temannya untuk berlari ke lapangan, namun sama seperti di awal. Entah berasal dari mana, dinding besar yang sebelumnya menghalangi jalan Tao dan Yuri kembali muncul.

 

“Dinding apa ini?” tanya Eunji sambil berpegangan pada dinding itu karna getaran yang semakin hebat.

 

“itu dinding yang diceritakan Tao pada kalian…” jawab Yuri membuat mereka semua terdiam walau getaran tak kunjung berhenti, malah semakin kencang setiap menitnya.

 

“kita ke kelas!” saran Sehun lalu berlari ke arah kelas mereka berada.

 

Saat mereka melewati aula, tiba-tiba saja barang-barang disana berterbangan tanpa arah. Seperti meja, kursi, madding maupun lampu-lampu. Semuanya berteriak, mencari perlindungan masing-masing. Tao meraih tangan Yuri dan berlari menjauh dari aula.

 

~”~”~”~”~”

“hah hah… kurasa kita aman disini” ujar Tao dengan nafas tersengal saat ia dan Yuri berhasil sampai di lantai 3.

 

“Tao?!” suara Sehun terdengar tepat di samping Tao. Membuat Tao menghadap sumber suara tersebut.

 

Dan Sehun nampak tepat di sebelahnya, dengan tangan Sehun yang ia genggam. Tao refleks melepaskan genggaman tangannya dari Sehun lalu mengedarkan pandangannya, mencari Yuri yang seharusnya ada di sampingnya kini.

 

Tao menunjuk Sehun. “ke…kenapa kau di sini? Jelas-jelas tadi aku menarik tangan Yuri, bukan kau!” ujarnya lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

 

“Itu seharusnya yang ku tanyakan. Aku yang tadi menarik tangan Yuri! Kenapa jadi kau?!” protes Sehun mencibir kesal Tao.

 

Keduanya saling menatap benci. “Aiish, sudahlah! Ayo kita cari Yuri!” saran Tao yang sudah jengah dengan perdebatannya dengan Sehun. Sehun mengangguk setuju lalu mengikuti Tao untuk mencari Yuri.

 

 

~”~”~”~”~”

“TAO… teman-teman!! Kalian dimana?” teriak Yuri nyaris frustasi saat ia menyadari telah terpisah dari teman-temannya.

 

Yuri memutuskan berjalan kembali ke aula, karna ia yakin kalau teman-temannya pasti berpikiran sama dengannya. Namun Yuri sudah jauh melangkah, tapi ia seperti berjalan berputar.

 

“kenapa lagi-lagi seperti ini? Ada apa dengan sekolah ini?” keluh Yuri sambil menghentakkan kakinya kesal.

 

Yuri sampai di halaman belakang, senyum simpul terlukis di wajah cantiknya saat ia melihat gudang. Tempat bertemu Yuri dan Tao dulu. Yuri melangkah senang memasuki gudang yang telah termakan usia itu.

 

Senyum Yuri terus mengembang saat ia menyadari kalau isi gudang itu tidak ada yang berubah, persis seperti 5 tahun dulu. Itu artinya, tidak ada yang menjamah gudang itu setelah Yuri dan Tao meninggalkannya.

 

Tok…tok

 

Ketukan pintu terdengar. Refleks Yuri langsung memandang pintu gudang yang sebelumnya ia tutup. Dengan rasa takut, perlahan Yuri berjalan mendekati pintu gudang. Suara ketukan pun hilang, tapi tidak menghilangkan rasa was was Yuri.

 

Tangan Yuri sudah mencapai knop pintu gudang, tapi Yuri belum berani memutarnya. Nafasnya menderu, dadanya sesak, mengerjapkan matanya pun rasanya Yuri enggan. Tidak mau melewati satu detik pun momentnya saat ini.

 

“Fuuuh…” Yuri menghembuskan nafasnya, berusaha mematangkan mentalnya untuk membuka pintu.

 

Clek~

Knop pintu berhasil Yuri putar. Yuri mendorong pintu perlahan, tatapan matanya ia fokuskan pada tanah. Tidak berani menatap apa yang ada di hadapannya kini.

 

Sekarang pintu gudang sudah sepenuhnya terbuka, Yuri semakin heran karna tidak melihat apa-apa di tanah, kecuali rumput yang basah tentunya. Yuri memberanikan dirinya untuk menaikkan arah pandangnya. Namun tidak ada apa-apa di hadapannya kini.

 

“Mwo? Apa aku salah dengar?” ujar Yuri pada dirinya sendiri sambil menarik-narik daun telinganya. Takut ada yang bermasalah dengan telinganya.

 

Yuri berbalik badan, bermaksud kembali masuk ke dalam gudang.
”YURI!!!” suara seseorang meneriaki namanya membuat Yuri berbalik badan lagi menghadap pintu gudang.

 

Yuri mengerjapkan matanya berulang kali saat ia melihat seseorang yang amat familiar sedang melambaikan tangan ke arah Yuri. Orang itu berdiri di bawah pohon tak jauh dari gudang tempat Yuri berada.

 

Orang itu kini melompat-lompat dan masih tetap melambaikan tangannya. “Yuri! Ini Aku!!! Jiyong” teriak orang itu masih tetap dengan tingkah anehnya.

 

Yuri masih menatap orang itu. Postur tubuh, gaya rambut, wajah, suara… Ya, benar itu Jiyong. Yuri tertawa lalu berlari menghampiri Jiyong. Dari kejauhan Jiyong tersenyum senang saat melihat Yuri berlari menghampirinya.

 

“Oppa, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Yuri yang masih berlari untuk menghampiri Jiyong.

 

Jiyong tak menjawab. Ia kini diam mematung sambil menunduk. Yuri heran, melambatkan langkahnya. Tangan Yuri ia julurkan agar dapat mencapai Jiyong. Tersisa jarak 8 cm tangan Yuri ke bahu Jiyong, tiba-tiba saja Jiyong terkekeh, suaranya berubah. Refleks Yuri pun menarik mundur tangannya.

 

“Jiyong oppa, kau kenapa?” suara Yuri bergetar, rasa takut kembali menghinggapinya. Perlahan Yuri melangkah mundur.

 

Tawa Jiyong semakin keras. Suaranya seperti yeoja. Dan lama-kelamaan suara itu seperti jeritan melengking dari seorang yeoja yang kesakitan. Pohon di belakang Jiyong bergerak, menempel pada tubuh Jiyong.

 

“ka…kau siapa?! Kau bukan Jiyong!” teriak Yuri.

 

Jiyong yang masih tertawa dengan tubuh hampir menyatu dengan pohon kini meluruskan wajahnya, yang sedari tadi menunduk. Wajah itu bukan lagi milik Jiyong.

 

Wajah yang entah namja atau yeoja. Dengan mata yang menyipit karna tertawa. Juga mulut yang sudutnya sobek karna ‘orang itu’ masih terus tertawa. Bahkan tawanya semakin membahana tiap kali Yuri melangkah mundur.

 

“Kyaaaaaaaaaa” Yuri berteriak lalu berbalik badan. Berlari menjauhi –entah makhluk apa itu-.

 

Tapi tiba-tiba saja ranting-ranting pohon yang menyatu kini melilit kaki Yuri. Ranting itu menarik kaki yuri, membuat Yuri jatuh dan terseret mendekati pohon dan makhluk dengan tawa yang semakin terdengar menyayat telinga. Teriakan Yuri pun semakin kencang, berharap ada seseorang yang menolongnya.

 

“YURI!!!” panggil Tao dan Sehun saat mereka melewati gerbang menuju halaman belakang dan melihat Yuri yang terseret. Yuri tak merespon, ia masih focus pada teriakannya yang hampir menyamai tawa makhluk yang menyatu dengan pohon itu.

 

Tao dan Sehun langsung berlari menghampiri Yuri. Tao menarik tangan kanan Yuri, dan tangan kiri di kuasai Sehun. Tao dan Sehun menarik tangan Yuri bersamaan. Berusaha menyelamatkan Yuri.

 

Saat tarikan Tao dan Sehun membuat ikatan ranting dan kaki Yuri melemah, tawa makhluk itu berubah menjadi teriakan. Dan semakin kuat Tao dan Sehun menarik, makin kencang pula teriakan makhluk itu, bahkan terkesan seperti meraung.

 

Yuri kini menangis, tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi padanya. Rasa takutnya benar-benar membuatnya frustasi. Kaki dan tangannya terasa ingin putus karna terus di tarik-tarik sekuat tenaga.

 

CRAKK…

Ranting yang melilit kaki Yuri patah. Tao dan Sehun langsung membopong tubuh Yuri di antara mereka. Makhluk itu meraung, raungannya terdengar sangat miris.

Lalu pohon itu terbakar, entah karna apa. Tao dan Sehun segera membawa tubuh Yuri yang tak sadarkan diri menjauh dari pohon terbakar yang mengeluarkan teriakan serta tangisan memilukan.

 

 

~”~”~”~”~”

“kau lihat? Makhluk apa itu?” terlihat Sehun yang mondar mandir sambil menggerutu.

 

Tao dan Sehun kini membawa Yuri yang tidak sadarkan diri di sebuah kelas kosong, tanpa ada meja, kursi, dan alat berlajar lainnya. Yuri berada di pangkuan Tao. Sedangkan Sehun masih menata mentalnya yang tadi sempat hancur ketika melihat makhluk pohon yang menyeret Yuri.

 

“aku juga tidak tahu…” kini Tao merespon Sehun yang sedari tadi menggerutu tanpa henti.

 

Sehun menarik nafas lalu memilih duduk di hadapan Yuri dan Tao. Sehun menatap Yuri, tidak mempedulikan kehadiran Tao disana. Beberapa menit kemudian, ada pergerakan dari Yuri membuat Tao dan Sehun menatap yeoja itu senang.

 

Yuri akhirnya membuka matanya. Ia bangkit lalu memijat pelipisnya. “Yuri, kau tidak apa-apa?” tanya Sehun cemas. Yuri menggeleng lalu memposisikan duduknya menyadar ke dinding.

 

“ne, aku tidak apa-apa… tapi, apa kalian bertemu dengan yang lain?”

 

“tidak” jawab Tao singkat.

 

Yuri menghela nafas lalu duduk meringkuk. “aku lelah… aku ingin semuanya berakhir” ujarnya disertai isakan kecil. Sehun menghampiri Yuri lalu mendekapnya. Sementara Tao memilih menjauh dari Yuri dan Sehun lalu menatap ke luar jendela di kelas itu. Dinding besar nan tinggi tanpa puncak masih mengepung mereka di dalam sekolah itu.

 

Tao menurunkan pandangannya ke arah lapangan. Ia terkejut ketika melihat Kyuhyun dan Donghae yang berlari di lapangan karna sesuatu –yang entah apa- mengejar mereka.

 

“ada Kyuhyun dan Donghae” ujar Tao antusias, Yuri dan Sehun bangkit lalu melihat arah jari telunjuk Tao menunjuk.

 

Tao, Sehun dan Yuri langsung berlari berniat menyusul Kyuhyun dan Donghae lalu membantunya. Tapi ketika Tao dan Sehun berlari lebih dulu keluar kelas, tiba-tiba saja pintu kelas tertutup. Menyisakan Yuri yang masih ada di dalam.

 

“YURI” panggil Tao dan Sehun bersamaan. Mereka lalu berusaha mendobrak pintu itu agar terbuka, namun usaha mereka sia-sia. Tao tak habis akal, ia mencoba memecahkan kaca jendela kelas itu, tapi lagi-lagi gagal.

 

Yuri melambaikan tangannya dari dalam kelas, Tao dan Sehun dapat melihatnya. “KALIAN PERGILAH! BANTU KYUHYUN DAN DONGHAE. AKU BAIK-BAIK SAJA DISINI!!!” teriak Yuri dari dalam.

 

Tao dan Sehun saling menatap. Sebenarnya mereka enggan meninggalkan Yuri sendiri lagi, apalagi setelah kejadian di halaman belakang tadi. Namun Yuri tersenyum, menandakan kalau ia akan baik-baik saja. Senyuman Yuri mampu membuat Tao dan Sehun berlari meninggalkannya dan membantu Kyuhyun dan Donghae.

 

Baru beberapa langkah Tao dan Sehun berlari, mereka langsung berhenti ketika mendengar suara aneh di kelas tempat Yuri berada. Tao dan Sehun kembali ke depan kelas itu, menatap keadaan di dalam kelas melalui jendela.

 

Yuri yang melihat Tao dan Sehun terkejut, menatap keduanya dengan heran. Yuri ingin berteriak, menanyakan kenapa mereka berdua kembali, tapi Tao langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Menyuruh Yuri untuk tidak bersuara.

 

Ctak…

Crakk…

 

Yuri, Tao dan Sehun terdiam saat mereka mendengar suara aneh. Setelah mereka teliti lagi, ternyata itu adalah suara retakan yang berasal dari jendela di dalam kelas Yuri berada.

 

Jendela di sana cukup banyak, 8 bingkai terletak di belakang Yuri, jendela itu mengarah ke lapangan, tempat Kyuhyun dan Donghae yang berlari karena dikejar sesuatu. Lalu 6 bingkai lagi di depan Yuri. Yang mengarah pada koridor di depan kelas itu. Tempat Tao dan Sehun dapat menyaksikan keadaan Yuri.

 

Dan entah mengapa, sekarang ke 14 pasang jendela itu retak-retak. Yuri menatap cemas Tao dan Sehun, begitu pula sebaliknya. Tao masih berusaha mendobrak pintu, dan Sehun hanya memukul-mukul jendela agar ia tidak kehilangan sedetik pun untuk menatap keadaan Yuri.

 

Crak…

Crakk…

 

Retakan kaca jendela itu makin parah. Dan ada satu pecahan yang terbebas dari jendela dan melukai bahu kanan Yuri, membuat Tao dan Sehun semakin khawatir. Sehun melepaskan sepatu ketsnya lalu melemparnya di salah satu jendela di dekatnya dengan retakan paling parah.

 

PRANG…

Jendela itu berhasil Sehun pecahkan. Sehun pun melompat ke dalam kelas tanpa mempedulikan kakinya yang terluka karna pecahan kaca. Tao ingin melompat juga, tapi entah mengapa tubuhnya tiba-tiba kaku. Membuatnya hanya bisa mematung di depan kaca jendela yang Sehun pecahkan.

 

Sehun berlari menghampiri Yuri yang meringis kesakitan karna ada pecahan kaca yang tertanam di bahunya. Sehun merangkul Yuri, membantunya agar ia bisa keluar dari kelas itu. Namun ada 1 jendela yang sudah pecah, pecahan kaca itu terbang mengarah Sehun dan Yuri.

 

Dengan sigap, Sehun langsung memeluk Yuri, dan menjadi tameng untuk Yuri.

 

Jleb… Jleb Jleb

 

Beberapa pecahan melukai punggung Sehun. Sehun hanya tersenyum pada Yuri, menurunkan rasa khawatir dari yeoja yang ingin ia lindungi. Yuri dan Sehun kembali melangkah, namun tiba-tiba saja semua kaca di dalam sana pecah.

 

Dan anehnya semua pecahan kaca itu terbang ke arah Yuri, seolah kaca itu pecah karna di takdirkan untuk melukai Yuri. Sehun lagi-lagi mendekap Yuri lalu tiarap di lantai. Dengan posisi Yuri di bawah tubuh Sehun.

 

Jleb Jleb Jleb Jleb…

 

“AKHHHHHHH” teriakan kesakitan dari mulut Sehun mampu membuat Yuri menangis histeris dalam dekapan Sehun. Sementara Tao yang mematung juga tak bisa mengeluarkan kata apapun, tapi linangan air mata terjun bebas dari matanya. Seolah tetesan air mata itu bisa mewakilkan Tao saat ini.

 

Pecahan kaca kini berhenti bertebangan, karna semuanya sudah tertanam di tubuh Sehun. Bingkai-bingkai dan lantai pun bersih, tidak ada serpihan kaca sedikit pun. Dan Yuri merasakan berat di tubuhnya, bukan sakit karna tertusuk pecahan kaca.

 

Karna ia aman di dekapan Sehun. Tapi Sehunlah yang harus menanggung semua resikonya. Yuri membebaskan dirinya dari tubuh Sehun yang menimpanya. Air mata masih mengalir deras dari matanya yang kini sudah membengkak.

 

Dapat Yuri lihat tubuh Sehun yang dihiasi serpihan kaca kini mulai mengeluarkan darah segar. Yuri mengangkat kepala Sehun lalu meletakkannya di pangkuannya, menatap wajah Sehun yang menahan sakit untuknya.

 

“wae? Wae? Kenapa kau melakukannya?” tanya Yuri histeris pada Sehun.

 

Dengan sisa tenaganya Sehun meraih tengkuk Yuri lalu tersenyum. “jangan menangis. A…aku pernah berjanji padamu… ka..kalau aku akan melindungimu, kan?!” ujar Sehun dengan terbata-bata. Nafasnya mulai tersenggal.

 

“sehun~ah…” panggil Yuri lirih saat Sehun menutup matanya. Berulang kali Yuri memanggil Sehun, tapi Sehun tidak merespon. Padahal Yuri sudah mengguncangkan tubuh Sehun kencang, tapi tak ada reaksi. Tangis Yuri pun kembali pecah. “Aaaaaaaa…” Yuri hanya bisa berteriak sambil menangis saat ia sadar kalau Sehun tidak akan bangun lagi.

 

Seseorang mendekap tubuh Yuri dari belakang. “tenanglah… ayo kita pergi dari sini. Dan selamatkan diri kita…” Yuri langsung menatap orang yang memeluknya, itu Kris. Bukan Tao. Tao masih mematung dengan Eunji di sebelahnya yang menangis.

 

“bagaimana bisa aku meninggalkan Sehun?!” teriak Yuri sambil melepas pelukan Kris kasar. Tapi Kris tetap bersikukuh untuk membuat Yuri bangkit.

 

“kau mau apa yang Sehun lakukan untukmu sia-sia?! Dia melakukan ini karna ia ingin melindungimu! Kalau kau tetap disini…” ucapan Kris terhenti karna Yuri langsung memeluk tubuh Sehun kemudian kembali menangis.

 

Tubuh Tao tiba-tiba terjatuh, ia kembali normal sekarang. Eunji tak mempedulikan Tao yang terjatuh di sebelahnya, ia masih menangisi Sehun. Yuri akhirnya bangkit setelah ia mengucapkan beberapa kalimat di telinga Sehun yang bahkan sudah tidak bisa mendengar lagi.

 

Eunji langsung memeluk Yuri ketika Yuri dan Kris melompat keluar kelas. Yuri masih terisak, begitu pula dengan Eunji. Sedangkan Kris membantu Tao berdiri, Tao sangat lemas, seperti semua tenaganya terserap habis saat tubuhnya kaku tadi.

 

“kita harus ke lapangan dan membantu Kyuhyun juga Donghae…” ujar Kris sambil memapah Tao. Yuri dan Eunji mengikutinya dari belakang.

 

~”~”~”~”~”

          Yuri, Tao, Kris dan Eunji sudah berada di lapangan, mereka bersyukur perjalanan mereka kini lancar. Tidak berputar-putar, tidak juga di halangi dinding aneh yang tiba-tiba muncul seperti sebelumnya.

 

Yang membuat mereka terheran-heran adalah keadaan Kyuhyun dan Donghae kini. Sesuatu yang awalnya mengejar mereka sekarang menghilang, tapi kedua namja itu malah adu jotos. Berulang kali mereka saling menghantam wajah, berulang kali pula mereka jatuh lalu bangkit kembali.

 

Tao dan Kris sebelumnya sudah mengambil langkah untuk menghentikan Kyuhyun dan Donghae, tapi saat Tao dan Kris mendekat maka tubuh mereka akan terasa seperti terbakar. Semakin berusaha Tao dan Kris mendekat, maka rasa panas yang amat sangat menyergak tubuh mereka, bahkan mereka mendapat luka bakar.

 

“ini tidak bisa di biarkan, perkelahian itu bukan kehendak mereka!” ujar Kris lalu berusaha mendekat ke arah Kyuhyun dan Donghae –lagi-. Tapi Eunji langsung menahan lengan Kris.

 

“kau benar. Itu bukan kehendak mereka. Tapi kau mau, sebelum kau menyentuh bahu mereka, kau sudah gosong?!”

 

Perkataan Eunji mampu membuat Kris diam tak bergeming. Yuri yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini mendekati Kris dan Eunji, meninggalkan Tao dengan luka bakar yang sedikit serius di pojok lapangan sendirian.

 

“apa benar-benar panas?” tanya Yuri membuat Eunji tertawa.

 

“kau lihat aku berkeringat? Walaupun jarak aku dan mereka –Kyuhyun dan Donghae- 10 meter, tapi aku sudah kepanasan. Dan kau lihat luka bakar yang di dapat Tao dan Kris, kan?! Apa buktinya tidak cukup untukmu?” celoteh Eunji panjang lebar, amarahnya memuncak lantaran hawa panas yang menyelimutinya.

 

Yuri mengerutkan dahinya. “tapi aku tidak merasakan apa-apa” ucapnya yang mampu membuat Kris dan Eunji melongo saat mendengarnya, Tao pun bisa mendengar itu.

 

“Itu bagus! Kami serahkan Kyuhyun dan Donghae padamu, Yuri!” teriak Tao dari kejauhan. Yuri tersenyum senang sambil mengangguk.

 

Eunji berjalan lebih dulu menghampiri Tao, karna ia sudah tidak tahan dengan hawa panas. Kris tersenyum lalu menepuk bahu Yuri, memberi Yuri semangat.

 

Yuri berjalan cepat menuju Kyuhyun dan Donghae yang semakin parah saling membalas pukulan. Kyuhyun membalas Donghae telak, langsung mengenai hidungnya. Darah segar mengalir keluar dari hidung Donghae. Dan Yuri langsung bergegas menahan tubuh Kyuhyun.

 

Tapi Donghae tak mau kalah, ia menarik tubuh Yuri yang sedang menahan Kyuhyun. Donghae mendorong Yuri, sehingga Yuri harus rela terlempar beberapa cm ke aspal lapangan yang tak halus. Yuri bangkit, lalu menghampiri Kyuhyun dan Donghae, tak mempedulikan luka di bahunya yang semakin lebar, bahkan daging Yuri terlihat.

 

Kyuhyun dan Donghae tak memberi kesempatan untuk Yuri bergabung dengan aktivitas mereka kini. Keduanya tak mempedulikan Yuri yang berteriak menyuruh berhenti. Donghae justru mengeluarkan tendangan mautnya di daerah sensitive Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengerang kesakitan.

 

Kesakitan yang di alami Kyuhyun langsung membuat Tao dan Kris yang menonton pun merasakan ngilu yang amat sangat. Yuri mendengus kesal lalu menarik rambut Kyuhyun dan Donghae, memisahkan keduanya. Tapi kaki dan tangan mereka tak pernah berhenti untuk melukai satu sama lain.

 

“akh, kalian ini sebenarnya kenapa??” tanya Yuri frustasi sambil memperkuat tarikannya di rambut Kyuhyun maupun Donghae.

 

Kyuhyun yang sepertinya terusik dengan kehadiran Yuri langsung mencekik Yuri. Yuri terkejut bukan main, malah cekikan Kyuhyun menguat setiap detik. Bahkan kaki Yuri tak lagi menapak di lapangan, Kyuhyun mencekiknya tinggi.

 

Tao, Kris dan Eunji sangat khawatir, mereka segera berlari menyelamatkan Yuri, namun hawa panas menghentikan mereka. Akhirnya mereka hanya bisa membantu do’a dan memberikan Yuri semangat.

 

Yuri sudah kehabisan nafas, belum lagi kuku panjang Kyuhyun yang mulai melukai kulit lehernya. Donghae yang ternyata menyiapkan serangan balasan untuk Kyuhyun, sekarang sudah ada di belakang Kyuhyun. Donghae melakukan hal yang sama pada Kyuhyun, yaitu mencekiknya dari belakang dan melukai leher kyuhyun dengan kuku tajamnya.

 

“akkh” Kyuhyun mengerang karna kehabisan nafas. Ia menjatuhkan tubuh Yuri lalu mencakar tangan Donghae yang sedang mencekiknya.

 

Yuri menangis, merasakan perih di kulit lehernya, juga nyeri di bahunya yang terluka. Dan hawa panas tiba-tiba saja datang menghampiri Yuri. Yuri kepanasan, ia menggeliat seperti cacing. Luka bakar mulai menghiasi tubuhnya.

 

“YURI!!! Kembalilah!” dapat Yuri dengar Tao, Kris dan Eunji meneriakinya. Yuri bangkit lalu berlari menghampiri ke tiga temannya itu.

 

Dengan sigap, Tao langsung memberi pertolongan pertama pada luka Yuri. Eunji membantunya. Kris memilih melihat perkelahian Kyuhyun dan Donghae yang semakin beringas.

 

Kini Donghae naik ke pundak Kyuhyun dan masih tetap mencekiknya. Kyuhyun tak habis akal. Ia menjatuhkan dirinya ke lapangan, membuat Donghae yang ada di belakang tubuhnya tertindih, dan Kyuhyun pun akhirnya bebas dari cekikan Donghae.

 

Kyuhyun bangkit lalu menginjak perut Donghae yang masih terbaring di lapangan. Injakkan brutal terus Kyuhyun lakukan. Sampai Donghae terbatuk keras dan mengeluarkan darah merah yang kental dari mulutnya.

 

Yang menonton –Yuri, Tao, Kris dan Eunji- hanya bisa menggigit bibir masing-masing. Perasaan cemas, kalut, dan takut bercampur menjadi satu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan Kyuhyun dan Donghae, kecuali jika mereka ingin hangus terbakar.

 

“Kyuhyun~ah, Donghae~ahh kami mohon berhentilah! Sadarlah! Ini semua bukan keinginan kalian!!” teriak Eunji sambil menangis.

 

Kris merangkul Eunji, menopang tubuh yeoja itu yang mulai melemah. Sementara Yuri menangis di dekapan Tao. Semenit kemudian senyum mengembang dari Yuri, Tao, Kris, dan Eunji saat melihat Kyuhyun dan Donghae berhenti.

 

Kyuhyun dan Donghae tumbang, yang lain berlari menghampiri mereka. Yuri dan Tao membantu Kyuhyun, sedangkan Kris dan Eunji membantu Donghae. Semua tertawa haru bersama, tidak dengan Kyuhyun dan Donghae, mereka bahkan terlalu lelah untuk membuka mata.

 

Mereka membantu memapah Kyuhyun dan Donghae ke UKS yang letaknya tak jauh dari lapangan, namun lagi-lagi hal gila yang di luar nalar manusia terjadi menimpa mereka.

 

Jika pada umumnya gravitasi di bumi 9,8 atau 10 m/s, maka sekarang berubah menjadi 3,5 m/s. Mereka semua kini melayang, belum lagi benda-benda di dalam sekolah yang ikut melayang ke luar gedung sekolah. Hanya gedung sekolah yang masih berpijak kokoh di permukaan bumi.

 

Mereka semua bertebangan tanpa arah, saling bertabrakan tanpa henti. Tao berusaha menggapai tangan Yuri, tapi sayangnya sebuah tabung-tabung zat kimia besarta isinya menghantam tubuh Tao lebih dulu. Pecahan tabung melukai kulit Tao, belum lagi cairan –entah apa- yang membuat Tao terbakar.

 

“Aaaaakh…” Tao berteriak kesakitan, sedangkan Yuri menangis histeris.

 

Tubuh Yuri menghantam sesuatu, saat Yuri lihat ternyata Eunji. Senyum Yuri sempat mengembang, tapi langsung hilang dan berubah menjadi tangis –lagi- saat Yuri menyadari Eunji yang sudah tak bernyawa lagi. Di tubuhnya tertanam pisau yang biasa digunakan untuk praktek memasak salah satu ekskul di sekolah.

 

Yuri mengedarkan pandangannya ke arah lain, berharap menemukan teman-temannya yang lain, yang masih hidup tentunya. Beberapa meter darinya, dapat Yuri lihat Kris yang dihantam 2 buah papan tulis. Tubuhnya bak bola ping pong yang terus di mainkan.

 

Yuri mencari keberadaan Kyuhyun dan Donghae, namun ternyata keadaan mereka tak lebih baik dari Tao, Eunji maupun Kris. Yuri hanya bisa menangis sambil meneriaki nama teman-temannya, tapi ia sadar, beberapa cermin mengarah padanya.

 

Dan sebelum cermin-cermin itu menghantam tubuhnya, Yuri meneteskan air mata terakhirnya sambil tersenyum senang, “setidaknya aku merasakan hal yang sama denganmu, Sehun…”

 

PRANG…

END…

 

It’s Prolouge!

 

~”~”~”~”~”

“Ya! Nona, sadarlah” Yuri merasa suara seseorang mengusiknya, tubuhnya pun tergoncang-gocang, membuatnya dengan berat hati membuka matanya.

 

Seorang ahjumma terlihat menatap heran Yuri. Yuri bangkit lalu memijit perlahan kepalanya yang amat pusing. Ahjumma itu menepuk bahu Yuri, tak ada rasa sakit disana.

 

“sebenarnya apa yang kalian lakukan disini?”

 

‘Kalian’, ‘disini?’. Yuri terkejut saat potongan-potongan kejadian mengenaskan yang menimpanya dan teman-temannya melintas di kepalanya. Yuri langsung berdiri dan memperhatikan tubuhnya, dan tak ada yang aneh. Luka sedikit pun tak ada. Padahal jika di ingat-ingat lagi, ia tidak mungkin masih hidup.

 

Yuri menghadap ke belakang. Sekarang ia merasa bola matanya ingin keluar dari matanya saat melihat gedung sekolah yang hangus dan hampir rata dengan tanah. Yuri melangkahkan kakinya mendekat ke gedung sekolah itu, memastikan kalau ia tidak bermimpi.

 

“AKH” telinga Yuri hampir tuli saat ia melangkahkan kakinya dan mendengar seseorang teriak.

 

Yuri menunduk, melihat ada apa di kakinya. Dan lagi-lagi Yuri harus terkejut ketika melihat Donghae yang berteriak karna kakinya terinjak Yuri. Yuri baru sadar, kalau disana tak hanya ada dirinya dan ahjumma itu. Tapi juga teman-temannya, lengkap. Mereka semua tertidur melingkar.

 

Teriakan Donghae membuat yang lain terbangun, keadaan mereka sama seperti Yuri. Tidak ada yang terluka. Begitu pun Sehun dan Sooyoung. Yuri menangis, ia menangis bahagia sekarang. Semuanya pun tersenyum bahagia.

 

 

~”~”~”~”~”

“MWO? Terbakar? 2 tahun yang lalu?” teriak Yuri, Tao, Sehun, Kyuhyun, Sooyoung, Kris, Eunji, dan Donghae bersamaan saat ahjumma itu bercerita.

 

Ternyata sekolah ini hangus terbakar 2 tahun yang lalu karna hubungan arus pendek listrik. Banyak korban nyawa, namun untungnya keadaan sekolah saat itu sedang sepi, sehingga meminimalisir korban, walaupun akhirnya tetap sama.

 

Ahjumma itu datang untuk mengecek keadaan, karna sekolah yang sudah hancur itu akan di buat pusat perbelanjaan, dan para pekerja akan datang 2 jam lagi. Dan ahjumma itu menemukan Yuri dan teman-temannya yang sedang tidur melingkar di lapangan.

 

 

~”~”~”~”~”

“semua yang terjadi benar-benar gila…” ujar Sooyoung, masih tak percaya apa yang terjadi. “dan aku yang sudah mati, kini hidup kembali?!”

 

Eunji langsung memeluk Sooyoung dan menangis lagi. “sudahlah, yang penting kau masih hidup. Aaahh aku senang sekali” Sooyoung tersenyum lalu membalas pelukan Eunji.

 

“Oh ne, walaupun aku sudah mati. Aku masih bisa melihat apa yang terjadi pada kalian semua. Ada Sehun yang sangat heroik, Kyuhyun dan Donghae yang gila, oh itu hebat sekali…” Sooyoung bicara panjang lebar dengan euforianya.

 

Begitu pun yang lain, Kris, Kyuhyun, Eunji, Sooyoung dan Donghae saling membagi perasaan yang mereka alami dengan perasaan senang. Jiyong datang sambil membawa beberapa minuman kaleng dan snack. Karna mereka semua sedang berada di rumah Yuri.

 

“makanaan datang…” seru Jiyong, yang lain pun langsung menyerbu semua makanan yang dibawa Jiyong, Jiyong tersenyum lalu bergabung mendengarkan mereka semua bercerita. “benarkah aku menjadi mahkluk pohon?”

 

Kyuhyun heboh sendiri, ia hampir saja memuntahkan semua makanan yang di kunyahnya di hadapan wajah Jiyong saat bercerita dengan semangat. “aku melihatnya! Entah mengapa aku bisa melihat itu. Hyung menyatu dengan pohon lalu menarik Yuri, woooah untungnya Tao dan Sehun datang, kau sangat menyeramkan Jiyong hyung” celoteh Kyuhyun yang membuat semuanya tertawa.

 

“dimana Yuri, Tao dan Sehun?” tanya Kris pada Jiyong, mengabaikan yang lain saat bercerita sambil teriak-teriak.

 

Jiyong tersenyum lalu menunjuk kamar Yuri. “aku mengunci mereka di kamar Yuri. Walaupun aku benci Tao, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk Yuri, dia yang berhak memilih” ujar Jiyong sambil tersenyum, Kris pun ikut tersenyum, lalu bergabung dengan yang lain –lagi- yang masih terus bercerita.

 

 

~”~”~”~”~”

“Aaah! Ya! Jiyong oppa! Buka pintunya!” teriak Yuri sambil mengedor-gedor pintu kamarnya brutal.

 

Sedangkan Tao dan Sehun memilih berbaring di ranjang Yuri. Tao sibuk memainkan boneka milik Yuri, sedangkan Sehun hanya menatap kosong atap kamar Yuri.

 

“sudahlah, Jiyong hyung tidak akan membukakan kita pintu sampai kita menyelesaikan masalah kita” ucap Tao yang masih betah memutar-mutar boneka mickey mouse milik Yuri.

 

Yuri menatap Tao dan Sehun sambil menangis, serentak Tao dan Sehun bangkit lalu menatap Yuri heran. “waeyo? Kenapa kau menangis lagi?” tanya Sehun.

 

“hiks…hiks… huaaa” tangis Yuri makin keras lalu ia mengusap matanya kasar.

 

Yuri berlari ke arah Sehun dan Tao yang masih duduk di ranjangnya. Yuri loncat lalu memeluk Tao dan Sehun, membuat ketiganya jatuh bersamaan ke ranjang Yuri yang empuk.

 

“aku senang kalian masih hidup. A..aku senang sekali. Hiks…”

 

Tao dan Sehun tertawa bersamaan, dan kemudian mengelus punggung Yuri. Agar bisa membuat Yuri lebih tenang. “aku mencintai kalian. Kalian berdua…” ujar Yuri yang langsung membuat Tao dan Sehun melotot.

 

“MWOO??!”

 

END!!! (It’s sure. Kekeke)

 

~”~”~”~”~”

Akhirnya selesai juga >.< , walaupun ga yakin mau masangin Yuleon sama Tao. Soalnya kan jarang banget Yuri sama Tao di jadiin cast utama ff. Semoga dapet ya feelnya.

 

Tolong hargainya aku ya, dengan memberi komentar atau hanya meninggalkan jejak. Thanks ^^

 

Dan untuk midah eonni, Jeongmal Gomawoyo ya eonni udah mau post ff ambrul adu kayak gini -_-. *hugeonni Hehehe

Penulis:

Anyeong my name is Midah, You call me Midah Just a simple girl ^__^ ilove yulhae, Kyuri, dan Hanyul Just Kwon Yuri My bias, i don't care what people say but i like her :)

21 thoughts on “[Freelance] 3 Day 2 Night

  1. aishhh yakkk !!!! eonnnn ceritanya kerennnnnn
    aku udah takut bacanya hehehe ehh tau2nya itu entah mimpi atau apa hehehe
    keren eon kerennnn
    ahhh yul eon sama sehun ajaaaaaa aku yang sama taooo #plak hehehe

  2. Cerita’y bkin merinding,,tpi untung aja mreka g bner” mati:) kerenn cingu cerita’y,,ditunggu ff lain’y ya:) keep writing!!fighting.

  3. Huwaa..Menegangkan brayyy…!!
    Untung kaga ada yg mati endingnya, haha yuri jatuh cintrong ama dua duanya nih , bagi satu dong :p
    Ff nya bgus , ditunggu ff mu selanjutnya ^^

  4. yeyyye sng deh nemu yultao haha
    serem abis crta nya bkn deg2an. kirain endnya mati smua, ahh karma krn yuri gk prcya ssuatu si .
    tp akhrnya happy ..🙂

  5. ff’y keren, .ska sm jln crta’y, .krain ujung’y mti smua, v trnya . . . .😛
    yuri ska 2″y . .knpa ga sma sehun aja? dtnggu ff lain’y . .keep writing, fighting😉

  6. Ceritax serem bgt. apa lg aq bacax malem2. tp syukurlah smuax ga nyata. endx aq suka wkt yuri bilang, “aq mencintai kalian…!!!” hahaha..

  7. FFnyaaa daebak ^o^
    jarang” nemu cast ff yang Yultao, tp feelnya dapet. hehe
    yuleon milih siapa ya? kyuhyun oppa kah?! #plakk

    Serem sih -_- ga bisa bayangin gd oppa nyatu ama pohon >.< udh gtu Kyuhyun oppa sama Donghae oppa knp bisa adu jotos?

    bener-bener diperlukan imajinasi tinggi di ff ini. hwaiting ya buat authornya, aku selalu nunggu ff selanjutnya ^^

  8. baru nemu ff kayak gini. omegahhh ini keren banget, daebak deh buat authornya.
    yultao? hmmm… cocok sih. yuleon mah cocok sama siapa aja. untungnya yuleon ga fall in love sama semua cast namjanya. krn semua cast namjanya menurut aku sering banget di pairingin sama yuleon. jadi susah nentuinnya. hehehehe
    semangat deh buat authornya utk membuat ff yang soooo daebak lainnya.

Respect To Me with Your Comment ^__^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s