Posted in Fanfiction, Fluff, Romance

Love First Sight ( Oneshoot )

Love First Sight Donghae Yuri

Author             : Lee Midah ( Kyulhae4ever )

Cast                 : Lee Donghae , Kwon Yuri

PG                   : + 15

Lenght             : Oneshoot

Genre              : Romance, Love, fluff

Disclaimer       : Castnya Cuma minjem, ceritanya murni dan asli buatanku jadi jangan coba – coba menjiplak ya…..😄 mian kalau masih ada typonya😉

Anyeong Readers… Aku kangen ni ma Yulhae ( kagak nanya : kata readers ) makanya aku bikin fanfic ini, sekarang pairing Yulhae  ^_^ jangan Lupa RCL ya, Don’t be Siders!!! Don’t Plagiator!!!! Baca dulu baru comment🙂

Happy Reading All!!!!

Aku berjalan menyusuri sungai Han untuk mengambil beberapa gambar yang menurutku menarik. Neh, kalian pasti bertanya apa yang aku lakukan kan? ( Author : kagak! Donghae : gak nanya ma author nanya ma reader yey! Ala alya di biang kerok #plakk abaikan ) aku seorang Fotografer. Ania, tapi masih belum. Sejak kuliah aku memang menyukai Fotografi walaupun orang tuaku melarangku melakukannya karena mereka ingin aku menjadi seorang dokter. Tapi aku tetap berpegang teguh dengan pendirianku dan mengikuti kata hatiku. Setelah berjalan cukup jauh dan menemukan tempat yang nyaman untuk mengambil beberapa gambar. Aku pun mengeluarkan kameraku dan mulai memotret sekelilingku. Saat aku masih mencoba mengambil beberapa gambar mataku menangkap sosok seseorang yang menarik perhatianku, aku mulai memperhatikannya dan menurunkan kameraku. Dia adalah sosok yeoja yang berambut lurus tergerai panjang yang tertiup angin sehingga rambutnya menutupi sebagian wajahnya, membuatku sulit untuk melihat wajahnya dengan jelas. Tanpa sadar aku mulai berjalan mendekatinya, jarakku semakin dekat dan sekarang aku bisa melihat wajahnya, ah… neomu yeppeunda! Wajah yang cantik dan tubuh ideal untuk ukuran seorang yeoja membuatnya terlihat perfect. Aku pun mulai mengangkat kameraku dan mengarahkannya pada yeoja itu, setelah mengambil beberapa gambar sepertinya yeoja itu sadar kalau aku sedang memotretnya. Dia berjalan ke arahku membuatku terpaku jantungku semakin berdegup kencang saat dia sudah mulai mendekat, aku merasa sedikit gugup sekarang, karena wajah cantiknya sekarang sangat jelas terlihat.

“ Kau tahu mengambil foto seseorang tanpa ijin itu merupakan tindak kriminal? “, katanya namun hal itu membuatku diam terpaku selain cantik suaranya pun sangat merdu didengar.

“ Apakah kau seorang wartawan? “, tanyanya lagi namun aku masih dalam posisi yang sama yaitu mengagumi kecantikannya.

“ Hallooooo! Excuse me! Kau dengar aku?! “, katanya sedikit kesal dan akhirnya aku tersadar dan kembali ke dunia nyata.

“ Neh?! “, hanya itu yang keluar dari mulutku.

“ Aku bertanya padamu tuan, apakah kau seorang wartawan? “, tanyanya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas dada.

“ Wartawan? A… anio “, jawabku gugup sungguh jantungku berdetak kencang sekali, jika kalian ada disini kalian pasti bisa mendengarnya.

“ Lalu mengapa kau mengambil fotoku tanpa ijin? “, tanyanya lagi dengan posisi yang sama.

“ Aku mengambil gambar yang menurutku indah “, kataku jujur.

“ Mwo?!! “, katanya kaget.

“ Neh, aku selalu tertarik dengan sesuatu yang indah dan ingin mengabadikannya dengan kameraku “, kataku lagi tanpa terpikir aku mengatakan hal itu pada seorang yeoja, dan lebih parahnya yeoja ini baru pertama kali aku temui.

“ Jangan mencoba merayuku, berikan kameramu! “, katanya dengan nada tidak suka.

“ Untuk apa? “, tanyaku heran.

“ palli, berikan saja! “, katanya dengan tegas. Aku pun memberikan kameraku padanya dengan penasaran apa yang akan dia perbuat. Dia pun melihat hasil gambar yang aku ambil sejak aku datang kesini. Wajahnya yang kesal berubah menjadi tatapan kagum. Apakah dia mengagumi hasil fotoku?

“ Apa yang kau lakukan? “, tanyaku penasaran.

“ Hanya memastikan kau bukan seorang wartawan “, jawabnya sambil memberikan kameraku kembali.

“ Aku kan sudah mengatakannya tadi “, kataku sambil memasukan kameraku ke dalam tas.

“ Apa kau seorang fotografer? “ tanyanya padaku.

“ Anio, eh… maksudku belum “, jawabku.

“ belum? “, tanyanya heran.

“ Neh, tapi suatu hari nanti aku pasti bisa menjadi seorang fotografer “, kataku optimis.

“ Mungkin, karena kulihat dari foto – fotomu kau punya bakat “, katanya yang membuatku senang.

“ Jinjja?” tanyaku dengan senyuman yang mengembang.

“ Neh “, jawabnya singkat.

***

“ Ngomong – ngomong sedang apa kau disini “, tanyaku padanya saat kami duduk di bangku yang ada di dekat Sungai Han.

“ Mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku “, jawabnya sambil menatap air sungai yang mengalir.

“ Apa kau sedang punya masalah? “, tanyaku karena kulihat di matanya seperti sedang menanggung beban yang sangat berat.

“ Bukan urusanmu, aku memiliki masalah atau tidak “, katanya datar dengan posisi masih menatap air sungai.

“ Neh memang bukan urusanku, tapi jika kau butuh teman aku siap menemanimu? “, kataku menawarkan diri.

“ Tidak usah, Gomawo “, jawabnya, kami terdiam beberapa saat karena kulihat dia sedang memikirkan sesuatu. Seprtinya beban yang di tanggungnya memang sangat berat.

“ Hmmm… Apakah kau benar – benar mau menemaniku? “, tanyanya memecah keheningan yang terjadi beberapa saat yang lalu sambil menatapku.

“ Tentu saja “, jawabku dengan tersenyum.

“ Baiklah, tapi kau jangan protes kemanapun aku ingin pergi “, katanya sambil berdiri dari duduknya.

“ Baiklah, aku siap mengikutimu kemanapun kau mau “, kataku ikut berdiri juga.

“ Aku akan mengambil kendaraanku dulu “, kataku saat kami mulai berjalan.

“ Tidak usah, aku ingin mengendarai kendaraan umum “, katanya sambil tersenyum. Ternyata dia lebih cantik saat tersenyum.

“ Pinjamkan kacamatamu! “, pintanya.

“ Untuk apa? “, tanyaku heran.

“ jangan banyak tanya, berikan! “, katanya dengan nada kesal. Aigo dia terlihat kyeopta! Aku pun memberikan kacamata hitamku padanya. Kami pun pergi dengan mengendarai bus, aku tidak tahu pasti tujuannya namun aku hanya mengikutinya dan aku senang bisa menemaninya. Setelah itu kami turun di sebuah pasar tradisional, kulihat dia bukan yeoja yang sering datang ke tempat seperti ini. Dia seperti yeoja yang selalu datang ke mall jika ingin berbelanja.

“ Waah ramai sekali ! “, katanya sambil tersenyum. Sudah dua kali aku melihatnya tersenyum dan dua kali itu juga jantungku terasa berdebar – debar.

“ Apa kau baru pertama kali ketempat seperti ini? “, tanyaku padanya heran.

“ Neh, aku baru pertama kali kesini, dan sepertinya ini sangat menyenangkan “, jawabnya lalu kami pun masuk ke pasar itu. Dia terlihat senang sekali melihat keadaan pasar tersebut. Walau terkadang aneh melihatnya sesenang ini berjalan – jalan di sebuah pasar tradisional tapi tidak tahu kenapa aku juga merasa ikut senang.

“ Aku ingin itu! Belikan aku! “, pintanya padaku saat kami melewati sebuah kedai deobokki ( kue beras ).

“ Mwo?! “, kataku pura – pura tidak mendengarnya.

“ Ya~ kau kan yang bilang mau menemaniku, dan menuruti semua keinginanku “, katanya sambil mengerucutkan bibirnya yang membuatnya semakin terlihat seperti anak kecil membuatku merasa gemas sekali padanya.

“ Arraseo, kau tunggu disini “, kataku lalu pergi membeli deobokki itu. Setelah selesai membelinya aku kembali padanya yang sedang duduk menungguku.

“ Igeo! “, kataku sambil memberikan deobokki itu.

“ Wah…. yey!!! “, katanya sambil tepuk tangan, apa dia bisa sesenang itu hanya untuk sebuah deobokki ? lalu dia pun mulai menyantapnya.

“ Waaahh… masista “, katanya sambil tersenyum merekah, membuatku ikut tersenyum juga aku tidak bisa memalingkan pandanganku pada yang lain.

“ Apa kau baru pertama kali makan deobokki? “, tanyaku padanya yang masih asyik memakan deobokki itu.

“ Neh “, jawabnya singkat, yeoja ini benar – benar aneh. Padahal dia tinggal di Korea tapi tidak pernah memakan deobokki.

“ Kau mau? “, tawarnya padaku.

“ Ania, Kau saja “, kataku menolak halus.

“ Aaaaa….. “, katanya sambil menyodorkan deobokki itu padaku dan memaksaku untuk memakannya.

“ Aku kan sudah ….. “, kataku terpotong karena dia memasukan potongan deobokki itu ke mulutku.

“ Otte? Masista? “, tanyanya

“ Neh, tapi tidak seharusnya kau memaksaku memakannya seperti itu “, kataku padanya pura – pura kesal, dia hanya tersenyum polos memamerkan deretan gigi putihnya.

***

Setelah puas berjalan – jalan di pasar kami berdua pergi kesebuah taman yang sering di pakai oleh anak – anak kecil. Melihatnya sekarang membuatku merasa kalau yeoja ini seperti anak kecil yang masuk ke tubuh yeoja dewasa. Dia berlari dan duduk di ayunan dengan wajah yang sangat ceria. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakunya.

“ Palli! Dorong aku!!! “, teriaknya karena aku masih berjalan menghampirinya.

“ Palli!!! “, katanya lagi, aku pun mulai mendorong ayunannya pelan dan senyuman yang terpancar di wajahnya mulai merekah lagi, terkadang terdengar suara tawanya yang sungguh menyenangkan hatiku. Setelah puas bermain ayunan, kami duduk di bangku yang ada di taman itu.

“ Aku ingin es krim! “, katanya sambl menunjuk penjual es krim di seberang sana.

“ Neh?! “, kataku kaget.

“ Belikan aku es krim! Palli! “, katanya dengan meninggikan suaranya. Aish yeoja ini! Tapi jujur aku tidak bisa menolaknya, entah kenapa tubuhku mulai berjalan menuju tempat penjual es krim itu tanpa ada kata protes dariku.

“ Yang rasa cokelat ya! “, katanya sambil berteriak. Aku pun hanya menganggukan kepalaku saja.

“ Igeo! “, kataku memberikan es krim rasa cokelat seperti yang dimintanya.

“ Lho kenapa hanya satu? “, tanyanya heran karena aku hanya membeli 1 buah es krim.

“ Kau ingin lagi? “, tanyaku padanya sambil memberikan es krim cokelatnya.

“ Ani, bukan untukku tapi untukmu “, katanya sambil mengambil es krim yang ku berikan dari tanganku.

“ Aku tidak suka makanan manis “, kataku sambil duduk di sampingnya.

“ Apa kau sudah mencobanya? “, tanyanya sambil mulai menggigit es krimnya.

“ Neh, tapi saat aku masih berumur 5 tahun “, kataku sambil menerawang.

“ Ya~ itu lama sekali. Kau tahu rasa es krim itu bisa membuat hati kita senang “, katanya sambil terus memakan es krim itu.

“ Jinjja?! Aku baru mendengar perkataan seperti itu “, kataku kaget sambil menatapnya.

“ Coba saja! “, katanya sambil menyodorkan eskrimnya padaku, aku mulai menggigit es krim itu. Kenapa rasanya berbeda sekali ? Aku merasa seperti ada angin lembut yang menerpaku, sejuk sekali… Tapi apakah benar karena es krim itu?

“ Otte? Dulu aku sering merasa sedih karena kesepian namun suatu hari Omma menyuruhku untuk memakan es krim cokelat seperti ini. Hal itu membuatku merasa senang “, katanya sambil tersenyum membayangkan apa yang di ceritakannya.

“ Jinjja? Jadi karena Ommamu yang memberikannya kau merasa senang? “, tanyaku padanya.

“ Ania, Omma selalu bilang rasa manis dari es krim cokelat akan membuat harimu juga terasa manis. Namun setelah dia pergi aku tidak merasa seperti itu, namun aku mencoba untuk terus mempercayai apa yang dikatakannya “, jelasnya namun sepertinya dia merasa sedih menceritakan hal itu.

“ Begitukah? “, tanyaku dia pun menganggukan kepalanya. Bukan rasa dari es krim cokelat itu yang membuat harimu menyenangkan. Tapi senyumanmu setelah memakan es krim itu yang membuat orang di sekitarmu senang.

“ Kalau begitu kemana ommamu pergi? “, tanyaku.

“ Dia sudah pergi kesana! “, katanya sambil menunjuk langit, dan aku tahu itu bahwa ommanya sudah meninggal.

“ Oh begitu… “, kataku sambil melihat ke arah langit yang di tunjuknya.

“ Tidakkah kau ingin minta maaf? “, tanyanya yang membuatku menoleh padanya.

“ Huh?! “, tanyaku tidak mengerti.

“ Biasanya jika seseorang bertanya tentang orang yang sudah meninggal, dan membuat orang itu mengingatnya kembali dia akan meminta maaf “, katanya lagi.

“ Tapi menurutku itu bukan hal yang salah, bukankah dengan mengingatnya kita merasa orang itu tidak benar – benar pergi dari kita? “, kataku yang membuatnya berpikir kemudian dia tersenyum.

“ Kau orang pertama yang mengatakan hal itu padaku “, katanya lalu tertawa pelan. Aku pun ikut tertawa dengannya.

“ Oia sudah 7 jam kita bersama, tapi kita belum saling mengenal satu sama lain “, kataku yang baru ingat kalau aku belum mengetahui namanya.

“ Untuk apa sebuah nama jika kita bisa merasa nyaman satu sama lain? “, tanyanya yang sepertinya tidak terlalu ingin tahu namaku.

“ Tapi setidaknya itu lebih baik daripada harus memanggil Hey, kau, atau yang lainya. Aku Lee Donghae “, kataku sambil memperkenalkan diriku.

“ Jika itu yang kau ingin, panggil saja Yuri “, katanya

“ Yuri? Nama yang bagus “, kataku lalu tersenyum.

***

Setelah cukup lama kami duduk di bangku Yuri mulai berjalan menuju air mancur dekat taman itu. Aku hanya menatapnya bingung, apa yang akan dia lakukan? Aku terpaku saat melihatnya mulai menari – nari di bawah air mancur itu sambil tertawa tidak peduli bahwa pakaiannya akan basah kuyup. Namun melihatnya seperti itu sepertinya aku ingin sekali mengabadikannya, aku pun mulai mengambil kameraku dan mulai memotretnya. Dia sadar bahwa aku sedang mengambil gambarnya kemudian dia berpose layaknya seorang model. Hal itu membuatku semakin ingin terus mengambil gambarnya. Dia mengajakku untuk ikut bermain air mancur bersamanya, aku menyimpan kameraku lalu menghampirinya. Kami mulai bermain air, saling memercikan air ke tubuh masing – masing dengan senang. Bahkan kami sepertinya tidak peduli jika ada orang yang menonton kami sekarang. Jujur ini pertama kalinya dalam hidupku melakukan hal sebodoh ini, namun hatiku terasa sangat bahagia sekali sekarang. Setelah cukup lelah, kami pun istirahat kembali ke bangku tadi dan duduk dengan pakaian yang basah kuyup.

“ Kau dingin? “, tanyaku pada Yuri.

“ Sedikit, tapi hatiku sangat bahagia sekarang hahaha… “ katanya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Sama, aku juga bahagia Yuri-a. Kami diam beberapa saat karena kami larut dalam pikiran masing – masing.

“ Donghae-a, gomawo “, kata Yuri memecah keheningan diantara kami sambil menatap langit.

“ Neh?! “, kataku sontak memandangnya.

“ Hari ini sungguh menyenangkan! “, katanya yang balik memandangku sambil tersenyum manis sekali.

“ Neh, Cheonma. Nadoo “, jawabku membalas senyumannya.

Dia mulai berdiri kemudian berjalan dan berhenti dihadapanku, aku bingung apa yang akan dia lakukan? Aku pun ikut berdiri, sekarang kami saling berhadapan. Dia mulai maju mendekatkan dirinya padaku, aku hanya diam tidak bergerak sedikitpun tetap menatapnya heran. Setelah cukup dekat dia berjinjit untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku, lalu dia mencium bibirku dengan lembut. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Dia melepaskan ciumannya padaku, terlihat ada kekecewaan di matanya karena aku tidak membalasnya. Saat dia akan berbalik aku langsung memeluk pinggangnya dan mulai mencium bibirnya lembut seperti yang dia lakukan tadi. Aku semakin merapatkan tubuhku dengannya saat dia mulai membalas ciumanku. Kami berciuman cukup lama dan akhirnya kami harus mengakhiri ciuman itu, jika kami masih ingin hidup. Kami saling bertatapan dengan keadaan aku masih memeluk pinggangnya. Matanya memeperlihatkan beban yang cukup berat sedang dia pikul. Namun sepertinya dia mencoba untuk menanggungnya dengan sekuat tenaga.

“ Setidaknya hari ini aku bisa menjadi diriku sendiri “, katanya sambil meneteskan air matanya. Aku terpaku melihatnya menangis, padahal tadi dia sungguh yeoja yang ceria.

“ Uljima, yeoja sepertimu tidak seharusnya menangis “, kataku sambil mengusap air mata yang jatuh dipipinya dengan lembut.

“ Gomawo “, katanya lagi lalu aku memeluknya erat sekali seperti tidak ingin berpisah dengannya, namun hari semakin sore dan sekarang ini waktu kami telah berakhir. Dia melepaskan pelukanku dan tersenyum padaku.

“ Aku harus kembali sekarang “, kata Yuri dengan raut wajah yang sedih namun dia tetap mencoba untuk tersenyum.

“ Ingin aku antar? “, tawarku padanya.

“ Ania, gwenchana. Aku akan pulang sendiri “, katanya menolak tawaranku.

“ Yuri-a, apakah kita bisa bertemu kembali? “, tanyaku saat dia mulai berjalan menjauh.

“ Jika takdir mengijinkannya, mungkin kita akan bertemu kembali “, jawabnya sambil berbalik ke arahku. Lalu dia berjalan lagi menjauh dariku.

“ Aku pastikan takdir akan mempertemukan kita kembali!!! “, teriakku padanya namun dia hanya mengangkat tangannya ke atas sambil melambai – lambaikannya. Aku menatap punggungnya yang semakin lam semakin menghilang dari pandanganku.

“ Aku janji itu! “, kataku berjanji pada diriku, suatu saat aku pasti akan bertemu lagi denganmu Yuri-a. My First sight love… ^_^

The End

Udah baca Rclnya ya ^^ Don’t Forget!!!

Penulis:

Anyeong my name is Midah, You call me Midah Just a simple girl ^__^ ilove yulhae, Kyuri, dan Hanyul Just Kwon Yuri My bias, i don't care what people say but i like her :)

68 thoughts on “Love First Sight ( Oneshoot )

  1. Wuah.. Yulhae jjang.. ξ\(ˇ▽ˇ)/ξ
    Ff-nya sperty nyata chinggu, sperti krakter masing2.. Ada typo dkit tdi, tpi is art of writting heheh..

    Alur akhirnya kyak agak kcepatan dkit sih, blum jlas msalah apa yg di tanggung yul..
    Sequel .. Sequel Jebal.. ( ื▿ ืʃƪ)

  2. Iya unnie buat aja sequel nya fighting unnie
    Oh ya unnie aq tunggu ya yg kyuri nya Cause Him ama I Love You, You Love Me, dan Beautiful Face nya ya unnie sekali lagi
    fighting!!! utk unnie ^^

  3. Jgn2 Yuri i2 artis ya?Tgk ja keanehan Yuri…Malahan nanya Donghae i2 sorg wartawan atau bkn,ngak prnh mkn kueh beras,ngak prnh ke pasar dan Yuri kta bisa menjadi diri sebenar untk hri i2,n meminta kaca mta Donghae,ngak mau diantarin..Sequel dong thor?

  4. AW AW AW Ǿ.Ǿ jinjayoooooo
    Unnieaaaaa cocweetttt
    Hehehe penasaran nie un sequelny donk or jdi twoshoot kali ??? #berharap
    Hehehe

  5. wuihiii… i like this^^
    apalagi castnya YulHae couple^^ terus bkin FF YulHae atau KyuRi ya eon^^
    aku bakal jdi pelanggan blog ini :p😀

  6. manggilnya Unnie apa chingu ya? Unnie aja deh yaa ^^?
    woooooow… YulHae, lope lope deh sama mereka hahaha

    keep YulHae/KyuRi ya Unnie ^^ fighting!

  7. aaaaaaa~ seru bgt,,
    yuri pnya msalah apa sbnernya nih ?
    biasanya d blog ini aku baca ff kyuri aja..sekarang pengen baca yulhae juga ah,, hehe

  8. hahay,,,
    Calon fotografer kok d blg wartawan,,??
    Kekekeke,,,
    Bagus thor !
    Tapi kurang panjang,,
    Terus berkarya ya !
    Fighting !

  9. Aduhhh… Baca ff Kyuri, jadi suka kyuri, baca ff yulhae jadi suka yulhae.. Padahal akukan minyul shipp

    Sukses terus buat ffnya chingu🙂

  10. Aku bingung mau bilang apa tapi ffnya WOW banget eon hehe,tersentuh banget pas baca,daebak🙂

  11. Kayaknya tu si Yuri galau akut yaCh. Galau kenapa neng? Wkwkwkw….
    Tapi enak banget si ikan Nemo, dapet ciuman meskipun bukan pacarnya. Kkkkk

    Oia, ada typo tadi tapi ya sutralah. Dan sebenarnya aku bukan Sugen shipper siCh, apalagi Sone. Tapi aku suka liat Kwon Yuri, dia cantik dan manis.
    #GaAdaYgNanya xD

    1. iya kayaknya sih Eonni hahaha😄
      Abang donghae ya rezeki eonni, gak mungkin ditolak kan? #plakk
      Gomawo saran n kritiknya akan aku perhatiin lagi, Kamshamida😀
      iya aku juga paling seneng liat Kwon Yuri Eonni #samagakadayangnanya😛

  12. Tadinya mau baca ff yg Run Away To You (kalau ga salah?!) yg berchapter. Tp ternyata itu sequelnya ff ini toh?

    Berarti aku dah ketinggalan jaug bgt sma ff eonni. Pdahal aku udh hampir baca semua ff chapter buatan eonni lho. Terutama yg udh end.

    Aku lanjut ke babak selanjutnya deh. Hehe

Respect To Me with Your Comment ^__^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s